Tahun 2011, pernah ada 30 orang berkumpul di rumah kami. Di tepi kolam ikan lele, ngobrolin tentang masa depan peternakan lele masing-masing, peluangnya, gimana bertahan, malah gimana cara memulai ternak lele karena beberapa ada yang newbie.
Tahun 2014. Tiga dari 30 orang itu yang bertahan. Salah satunya kami. Perjalanan sampai sekarang masih belum mulus sih. Bisa ada sampai sekarang udah bersyukur banget. Dari ternak lele, sampai bikin filet lele. masih kecil tapi mau dibawa menuju besar. a m i n.
Rivers know this: there is no hurry. We shall get there some day
- A.A. Milne, creator Winnie The Pooh.
Tampilkan postingan dengan label jadi peternak lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jadi peternak lele. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Juni 2014
Selasa, 03 Juni 2014
Kerjain Aja Dulu
Banyak yang nanyain sama kami, gimana caranya memulai usaha, memulai bisnis. Lah pada nanyain ke kami, masih banyakan gagalnya nih daripada berhasilnya hahaha
Tapi intinya mah persis apa yang kata Nike bilang: Just Do It.
Lakukan aja. Pertimbangan yang masak, perencanaan yang baik tentu aja perlu. Tapi jangan kelamaan. Jangan merasa terbatas banyak hal. Kerjain aja. Berhasil atau gak ya mana kita tau kalau gak dicoba.
Terus kalau gagal gimana?
Pilihannya ada sama kita. Mau diterusin usahanya atau mau berhenti aja. Rugi dan untung, resikonya usaha. Pusing dan susah tidur karena stres ngurusin usaha, ya itu juga resikonya. Hehehe
Yang penting bisa lihat ke depan, selangkah dua langkah, kalau perlu sepuluh langkah di depan, mau ngapain.
Buat tahap mencapai langkah-langkah itu. Bikin langkah yang realistis. Gimana caranya? makanya kami bilang kerjain aja, soalnya banyak hal dalam bisnis yang hanya bisa kita pelajari kalau kita kerjain.
Teori gampang. Ngomong juga enteng. Tapi prakteknya, susah cuy :)) tapi tenang aja, kamu gak sendirian.
Inget-inget aja kata seseorang yang saya juga gak tau siapa dia . Gini katanya: If you feel like there's something out there that you're supposed to be doing, if you have a passion for it, then stop wishing and just do it.
Tapi intinya mah persis apa yang kata Nike bilang: Just Do It.
Lakukan aja. Pertimbangan yang masak, perencanaan yang baik tentu aja perlu. Tapi jangan kelamaan. Jangan merasa terbatas banyak hal. Kerjain aja. Berhasil atau gak ya mana kita tau kalau gak dicoba.
Terus kalau gagal gimana?
Pilihannya ada sama kita. Mau diterusin usahanya atau mau berhenti aja. Rugi dan untung, resikonya usaha. Pusing dan susah tidur karena stres ngurusin usaha, ya itu juga resikonya. Hehehe
Yang penting bisa lihat ke depan, selangkah dua langkah, kalau perlu sepuluh langkah di depan, mau ngapain.
Buat tahap mencapai langkah-langkah itu. Bikin langkah yang realistis. Gimana caranya? makanya kami bilang kerjain aja, soalnya banyak hal dalam bisnis yang hanya bisa kita pelajari kalau kita kerjain.
Teori gampang. Ngomong juga enteng. Tapi prakteknya, susah cuy :)) tapi tenang aja, kamu gak sendirian.
Inget-inget aja kata seseorang yang saya juga gak tau siapa dia . Gini katanya: If you feel like there's something out there that you're supposed to be doing, if you have a passion for it, then stop wishing and just do it.
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele
Senin, 02 Juni 2014
Jadi Bos dan Ongkang-ongkang Kaki?
Coba tanya, kenapa pada mau wirausaha? Gak dikit yang jawab "biar bisa santai, orang lain pada kerja, kita libur. asik cooy."
Biasanya yang menjawab kayak gitu ada dua macam orang: pertama mereka yang masih mimpi berwirausaha. Kedua, mereka yang berwirausaha dan udah punya duit milyaran dari usahanya itu.
Kalau baru merintis usaha, jangan harap bisa santai. Orang lain udah tidur, kamu masih bekerja. Orang lain bangun tidur, kamu masih bekerja, seenggaknya dalam mimpi kebawa sampe tidur loh kalo lagi mikirin pekerjaan. Hahaha. *curhat*
Sedikit waktu buat tidur, lebih banyak waktu untuk bekerja. Itu yang terjadi saat masih merentang jalan menuju kesuksesan (baca: minimal buat balik modal).
Oya, satu lagi. Membuat bisnis sendiri biasanya dimulai dengan melakukan semuanya sendirian. Itu yang terjadi pada kami. Bisa jadi ada yang udah mulai menggaji pegawai. Itu sih antara modalnya udah banyak, berani minjem duit lebih, atau emang bisnisnya mau gak mau dimulai dengan ada pegawai.
Dalam membangun bisnis, ada satu hal penting yang kudu kita ciptakan: sistem. Nah sistem inilah yang menentukan apakah kamu bakalan bisa punya waktu lebih banyak untuk santai atau tecekik bisnis sendiri. Sistem itu misalnya jalur kerja, jalur komunikasi, sistem kepegawaian, SOP pekerjaan, dan sebagainya dan seterusnya.
Bagaimanapun kita bakal tetap ketemu dengan orang-orang yang bakal bilang "enak kamu mah jadi bos bisa santai-santai". Duh kalau ada yang denger ngomong begini, pengen deh rasanya bertukar tempat.
Iya kami bisa santai, tapi banyak di waktu tertentu kami koprat-keprot mengurus pegawai yang kabur membawa uang, mengejar konsumen yang minta pesanan diantar di hari yang sama saat stok sedang habis, minta maaf dihadapan konsumen yang marah, mesin rusak duit habis, bayar gaji pegawai untung cekak, kontrol kualitas produk, karyawan nambah gaji bengkak, dan lain dan lain.
Menjadi wirausaha, resikonya lebih besar. Amanahnya lebih banyak. Komitmen harus teguh dan kuat.
Bersantai? bukan gak bisa, kami lebih suka menyebutnya fleksibel alias bisa diatur, lihat prioritas pekerjaan dulu.
Jadi bos dan ongkang-ongkang kaki? hehehe sebelum ngomong ongkang-ongkang kaki, coba dulu rintis usahamu sendiri, baru kamu tahu
Biasanya yang menjawab kayak gitu ada dua macam orang: pertama mereka yang masih mimpi berwirausaha. Kedua, mereka yang berwirausaha dan udah punya duit milyaran dari usahanya itu.
Kalau baru merintis usaha, jangan harap bisa santai. Orang lain udah tidur, kamu masih bekerja. Orang lain bangun tidur, kamu masih bekerja, seenggaknya dalam mimpi kebawa sampe tidur loh kalo lagi mikirin pekerjaan. Hahaha. *curhat*
Sedikit waktu buat tidur, lebih banyak waktu untuk bekerja. Itu yang terjadi saat masih merentang jalan menuju kesuksesan (baca: minimal buat balik modal).
Oya, satu lagi. Membuat bisnis sendiri biasanya dimulai dengan melakukan semuanya sendirian. Itu yang terjadi pada kami. Bisa jadi ada yang udah mulai menggaji pegawai. Itu sih antara modalnya udah banyak, berani minjem duit lebih, atau emang bisnisnya mau gak mau dimulai dengan ada pegawai.
Dalam membangun bisnis, ada satu hal penting yang kudu kita ciptakan: sistem. Nah sistem inilah yang menentukan apakah kamu bakalan bisa punya waktu lebih banyak untuk santai atau tecekik bisnis sendiri. Sistem itu misalnya jalur kerja, jalur komunikasi, sistem kepegawaian, SOP pekerjaan, dan sebagainya dan seterusnya.
Bagaimanapun kita bakal tetap ketemu dengan orang-orang yang bakal bilang "enak kamu mah jadi bos bisa santai-santai". Duh kalau ada yang denger ngomong begini, pengen deh rasanya bertukar tempat.
Iya kami bisa santai, tapi banyak di waktu tertentu kami koprat-keprot mengurus pegawai yang kabur membawa uang, mengejar konsumen yang minta pesanan diantar di hari yang sama saat stok sedang habis, minta maaf dihadapan konsumen yang marah, mesin rusak duit habis, bayar gaji pegawai untung cekak, kontrol kualitas produk, karyawan nambah gaji bengkak, dan lain dan lain.
Menjadi wirausaha, resikonya lebih besar. Amanahnya lebih banyak. Komitmen harus teguh dan kuat.
Bersantai? bukan gak bisa, kami lebih suka menyebutnya fleksibel alias bisa diatur, lihat prioritas pekerjaan dulu.
Jadi bos dan ongkang-ongkang kaki? hehehe sebelum ngomong ongkang-ongkang kaki, coba dulu rintis usahamu sendiri, baru kamu tahu
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele
Jumat, 30 Mei 2014
Tukang Lele Kembali
Seabad gak update blog ini. Phiiuuh. Sibuk nih. Aslinya. Kolam lele sebenernya agak setengah vakum. Masih jalan kok, tapi saya beli ukuran kecil sekarang mah. Kalau dulu kan dari bibitnya. Sekarang saya main di pembesaran yang mulainya dari ukuran 8-10 perkilogram lah.
Kenapa?
Karena saya kan sekarang usaha filet ikan. Wihiy :) seru banget nih. Kedai Lele saya tutup sih. Gak seru ya. Maapkan. Begitu modal sudah ada lagi, kepengen deh buka Kedai Lele lagi. Banyak komponen yang mengejutkan waktu kami ngerjain warung kecil ini. Utamanya di bagian pegawai :(
Sekarang sih ikan lele di kolam saya murni habis buat filet ikan Eazy Freezy saja. Penjualan sedang bagus. Sekarang reseller filet ikan Eazy Freezy saya udah ada di Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, dan Depok. Bali mau nyusul nih kayaknya :D hehehehe. Cuma belum tahu pengirimannya bagaimana.
Ah segini deh bukti presensinya. Waktunya membalas semua komen yang masuk dulu. Sekali lagi, sori baru nongol.
Ulu for Tukang Lele.
Kenapa?
Karena saya kan sekarang usaha filet ikan. Wihiy :) seru banget nih. Kedai Lele saya tutup sih. Gak seru ya. Maapkan. Begitu modal sudah ada lagi, kepengen deh buka Kedai Lele lagi. Banyak komponen yang mengejutkan waktu kami ngerjain warung kecil ini. Utamanya di bagian pegawai :(
Sekarang sih ikan lele di kolam saya murni habis buat filet ikan Eazy Freezy saja. Penjualan sedang bagus. Sekarang reseller filet ikan Eazy Freezy saya udah ada di Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, dan Depok. Bali mau nyusul nih kayaknya :D hehehehe. Cuma belum tahu pengirimannya bagaimana.
Ah segini deh bukti presensinya. Waktunya membalas semua komen yang masuk dulu. Sekali lagi, sori baru nongol.
Ulu for Tukang Lele.
Rabu, 12 Februari 2014
Petani Ikan Lele Apa Kabarnya?
Kedai Lele tutup :D
Filet Ikan Eazy Freezy masih jalan.
Ternak ikan lele juga tetep ada ditreknya.
Kalau kalian butuh tulang ikan lele bisa kontak saya ya. Banyak nih. Biasanya tulang ini saya olah lagi jadi campuran pakan. Tapi kalau lagi capek ngegiling, saya kubur aja di kebon. Bagus tuh, tanah kebon saya tambah subur. Tiap hari panen jambu, rambutan, sirsak, malahan nangka udah berbuah lagi.
Lucu juga ya. Ternyata kalau mau hidup menyatu dengan alam, gak usah ribet cari pekerjaan. Jadi petani (ikan) saja. Tapi gak sederhana juga siklus kehidupan didalamnya. Hanya emang saya rasain lebih ramah lingkungan. Itu juga kalau kamu tinggal di kampung. Kalau di pemukiman padat sih, pasti pada protes tuh tetangga ngomongin limbah air kolam. Sementara saya limbah air kolamnya dibuang dan masuk ke pesawahan. Sawahnya yang ada tumbuh subur.
Kalau punya cita-cita, usahain punya balong & kebon masuk ke daftar cita-cita. Enak banget. Walau gak mudah ngurusnya dan ada biaya buat melestarikannya, tapi sepadan dengan kenikmatannya.
Filet Ikan Eazy Freezy masih jalan.
Ternak ikan lele juga tetep ada ditreknya.
Kalau kalian butuh tulang ikan lele bisa kontak saya ya. Banyak nih. Biasanya tulang ini saya olah lagi jadi campuran pakan. Tapi kalau lagi capek ngegiling, saya kubur aja di kebon. Bagus tuh, tanah kebon saya tambah subur. Tiap hari panen jambu, rambutan, sirsak, malahan nangka udah berbuah lagi.
Lucu juga ya. Ternyata kalau mau hidup menyatu dengan alam, gak usah ribet cari pekerjaan. Jadi petani (ikan) saja. Tapi gak sederhana juga siklus kehidupan didalamnya. Hanya emang saya rasain lebih ramah lingkungan. Itu juga kalau kamu tinggal di kampung. Kalau di pemukiman padat sih, pasti pada protes tuh tetangga ngomongin limbah air kolam. Sementara saya limbah air kolamnya dibuang dan masuk ke pesawahan. Sawahnya yang ada tumbuh subur.
Kalau punya cita-cita, usahain punya balong & kebon masuk ke daftar cita-cita. Enak banget. Walau gak mudah ngurusnya dan ada biaya buat melestarikannya, tapi sepadan dengan kenikmatannya.
Jumat, 24 Januari 2014
Sabar ya Temen-temen Petani Ikan dan Udang di Pantura Indramayu
Indramayu banjir. Penghuni tambak hanyut. Dari ikan, udang, sampai buaya-buaya di penangkaran juga ikut terlepas, bebas.
Kerugian yang harus ditanggung para petani ikan dan udang pasti tidak sedikit. Terakhir saya dengar kabar, 75 ton ikan lenyap dalam banjir.
Sabar, ya. Didoakan semoga lekas pulih dan keuntungan berlipat-lipat menyongsong teman-teman sesama petani semua di tahun 2014 ini. Amin.
Kerugian yang harus ditanggung para petani ikan dan udang pasti tidak sedikit. Terakhir saya dengar kabar, 75 ton ikan lenyap dalam banjir.
Sabar, ya. Didoakan semoga lekas pulih dan keuntungan berlipat-lipat menyongsong teman-teman sesama petani semua di tahun 2014 ini. Amin.
Senin, 06 Januari 2014
Simulasi Beternak Lele 2 (Tanya - Jawab)
Tanya:
Hal-hal apa saja yang harus disiapkan dan diperhatikan kalo ternak lele?
Jawab:
Yang pertama harus disiapkan : mental. Gak semua orang bisa menjadi petani/peternak. Bukan berarti kerjaannya susah, tapi butuh mentalitas tertentu untuk berhasil.
Yang kedua yang harus disiapkan : modal.
Lupakan semua perhitungan bisnis yang ada di buku2 tentang peternakan/perikanan. Buku2 itu melupakan satu hal penting : ikan itu mahluk hidup. Yang namanya mahluk hidup itu bisa mati. Sukur2 kalo lelenya mati pas di tukang pecel lele, nah masalahnya kebanyakan petani itu biasanya mengalami masa belajar, yang berarti lelenya lebih banyak mati di kolam sendiri :D Ini berarti harus banyak modal yang disiapkan untuk ongkos belajar. Tentu saja belajar bisa lewat kursus-kursus peternakan lele, sekarang banyak kok yang bikin. Namun kursus itu juga tidak jadi jaminan berhasil, malah yang saya liat tiap lulusan kursus suka bikin kubu2 sendiri, jadi kayak mahzab aliran beternak gitu deh :D
Jadi pengalaman adalah guru terbaik.
kalo untuk masalah teknis, sebenernya mah gampang2 aja. Punya lokasi dimana buat kolamnya? Udah jadi kolam ato belum? Saluran pembuangan dan pemasukan airnya udah bagus belum? Kolam yang mau dibikin berapa banyak, luas berapa? Dan banyak lagi detail teknisnya.
Sulitnya memang detail teknis gini banyak yg gak ngerti dan ngeliat kolam orang laen selalu jadi solusi yang baik. Pake jurus ATM tea, Amati, Tiru, Modifikasi. Ini juga berlaku ke cara2 CBIB - Cara Budidaya Ikan yg Baik.
Begitulah untuk awal.
Selasa, 31 Desember 2013
Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik Di Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (2)
Kunci ikan murah adalah: pakannya, alias makanan yang dimakan sama si ikannya.
Apa sih kandungan bahan utama dari pakan ikan? Vietnam bisa bikin pakan ikan murah jangan-jangan karena bahannya seadanya sembarangan ya?
Heuh Ya gaklah. Bahan utama pakan ikan adalah: Tepung Ikan. Jeruk makan jeruk, ya? Tetap aja si ikan butuh pasokan lain selain tepung ikan. Bahan tambahan lainnya bisa macam-macam, umumnya yang mengandung karbohidrat untuk nambah bobot. Nah, setelah kita ketemu sama kunci pertama untuk memproduksi ikan murah, yaitu pakan ikan, kita sekarang ketemu sama kunci keduanya.
Tepung ikan.
Hmmhh memang berlapis-lapis ini kuncinya. Apan saya udah sebutin di judulnya, konfliknya banyak :D
Di bumi ini negara yg memproduksi tepung ikan adalah Peru, Brazil, juga Amerika (cek lagi di internet, taglinenya impor tepung ikan). Termasuk Vietnam. Dia sanggup menciptakan produk yang bahan-bahannya mereka bikin sendiri dari hulu ke hilir. Alhasil terciptalah harga produk yang murah. Tidak ada tepung ikan yang diimpor, tidak ada pabrik luar negeri yang ikutan nimbrung jualan di Vietnam.
Pendek kata, ini yang terjadi di negara bodoh yang sangat aku bela -ngutip Otong Koil-, Indonesia Raya, ini:
1. Pakan ikan lele sekilo doang harganya 9ribu. Sementara buat sehari, pakan yang dibutuhkan rata-rata 5% dari berat total. Minimal sekarung pakan habis sehari. Sekarung tau gak berapa duit? 250ribu. Kalikan 30 hari. Modar sampeyan. Sehari buat di balong lele-lele ini, saya mesti habiskan 1 karung! Bah... pusing kepala. Hehehe :D
2. Bahan utama dari pakan ikan adalah tepung ikan. Negara yang kita cinta ini mengimpor tepung ikan dari negara tetangga. Akibatnya apa? ditambah pajak, bea cukai, dicampur bahan lain = mahal gila. Negara ini kurang laut kayak gimana. Pejabat negara gak kepikiran untuk mendorong industri tepung ikan, padahal laut kita super duper luas, masa gak ada ikannya.
3. Mantan menteri perikanan dan kelautan bernama Fadel Muhammad mencetuskan program membuat bahan pengganti tepung ikan, dibuatnya pun disini di Indonesia. Petani ikan senang menyambut program ini. Entah kenapa sejak ide ini meluncur dari mulutnya, beliau dicopot dari kedudukannya sebagai menteri, pabrik pakan impor selamat dari kerugian, petani kembali bergulat dengan kemiskinan.
4. Tahun 2013, pemerintah mengizinkan pabrik pakan Thailand membangun LIMA pabrik pakannya di Indonesia. Nama pabriknya Charoen Pokphand: Lampung, Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan Sulawesi. Di tahun 2011 aja ini pabrik dapet profit 2 - 3 triliun dari penjualan pakan di Indonesia. Dibawa kemana duitnya? Thailand lah, masa Temanggung. Terus apa kabar petani ikan kita?
5. Petani melihara ikan sampe gede, biar gede dikasih makan yang bagus-bagus. Makannya pake pakan/pelet. Pakannya buatan pabrik: mahal. Petani panen ikan dijual ke bandar: murah. Bandar ngejual ke tangan ketiga, yaitu: penjual pasar atau supermarket: mahal. Siapa yang untung? Pabrik pakan dan bandar ikan. Siapa yang sehat? kamu yang makan ikannya. Siapa yang kismin? petani ikannya.
Pada akhirnya kita ketemu sama Kapitalis-kapitalis yang kesana-kesini pake pesawat jet. Tau gak artinya kapitalis apa? menghasilkan uang di setiap celah yang ada dan ambil untung segede-gedenya, bener-bener seguede-guedenya.
Terus kita berjumpa dengan Globalisasi. Tau gak globalisasi artinya apa? Ngirim barang atau orang lintas negara peduli amat akibatnya. Contoh kasusnya ya ngirim ikan lele dari Vietnam ke Amerika, ngirim ikan lele dari Vietnam ke Indonesia. Yang penting mah kirim-kirim weh. Masa bodo efeknya.
Pusing gak? Moga-moga gak ya. Tapi seenggaknya sekarang udah pada tau konflik dalam (kebanyakan) satu lauk yang kamu sikat habis ya begitu.
Walau iklannya jelek, tapi Om Maspion bener. Dia selalu bilang: cintailah ploduk-ploduk indonesiaaa…
Semakin kamu banyak mengkonsumsi barang buatan Indonesia, semakin banyak petani yang tersenyum karena hasil panennya laku. Tidak ada jejak karbon yang bikin bumi sakit, harga bisa adil dan merata, dan tidak ada hasil panen yang terbuang. Petani bisa nambah penghasilan, bisa nabung, bisa nyekolahin anak, bisa naik haji, bisa jalan-jalan menyusuri pantai dari ujung timur sampai barat Indonesia *eh yang terakhir ini mah kepengen saya hohoho*
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan pertamanya ada disini.
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan pertamanya ada disini.
Senin, 30 Desember 2013
Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik dari Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (Bagian I)
Beberapa hari kemarin, saya ketemu temen yang mengajak buat kerjasama. Ada restoran besar di Jakarta yang butuh salah satu produk Eazy Freezy dan kayaknya kami ditawarin jadi suppliernya. Ckckck, masa depan naik tingkat menanti hadapan mata. Tapi saya keburu geer, sih. hehehe.
Pas ngobrol, ketahuanlah berapa patokan harga dasar dari suplier ikan yang lain. Kami semua dari geng Eazy Freezy, komennya sama: gelo murah pisan euy! Aslinya, murah, bahkan penjual ikan di Pasar Ciroyom Bandung pun gak bisa kasih harga segitu. Petani ikan bisa mencekik lehernya masing-masing kalau tahu ikan dihargai segitu murahnya. Tau gak darimana suplier ikannya? yes, VIETNAM.
Vietnam melulu. Saya mau naek tingkat ke level lebih tinggi kepentoknya sama Vietnam. Aahhh! Kemarin Cina, sekarang Vietnam, besok apa? Sesekali dijegal Kebumen atau Tasikmalaya kek gitu…
Vietnam menancapkan kakinya kuat-kuat di industri perikanan dunia beberapa tahun belakangan ini. Lebih spesifiknya lagi ikan air tawar: ikan lele dan ikan dori. Industri perikanan di Amerika udah kesetrika sama Vietnam. Banyak pabrik yang gulung tikar karena Vietnam punya produk yang lebih murah.
Saya sampe bertanya-tanya di google. Apa sih yang bikin produk olahan Vietnam murah? Berdasarkan pengalaman dan setelah mata saya keriting baca literatur sana-sini, kuncinya ada dalam satu kalimat berikut ini : Hulu ke hilir, semua dikerjain. Jadi tidak banyak konflik yang campur aduk didalamnya selain kepentingan pemilik yang mau untung besar. Pendek kata, kunci harga ikan murah itu ada di : pakan ikan.
Vietnam gak hanya ngefilet ikan sekelas pabrik. Mereka juga memelihara ikannya. Ini adalah proses 'tengah-tengah' antara si hulu dan si hilir. Mereka kasih makan ikannya menggunakan makanan yang mereka bikin sendiri. Hulunya adalah makanan ikan (pakan ikan). Hilirnya adalah produk yang kalian nikmati dari meja makan.
FYI, pakan ikan itu MUAHALnya luar biasa. Najis gila deh pokoknya -atau kaminya yang melarat aja yak :D - Satu karung pakan ikan lele yang saya beli harganya 270ribu dengan berat 30kg. Sekarung pakan cuma cukup buat sehari-dua hari kalau kelasnya udah peternakan kayak kami. Mahal ya.
Bikin sendiri dong pakannya! Mewek melulu nih petani ikan!
Well, sudah. Setelah percobaan yang ke 15 dan bolak-balik menghabiskan duit di LIPI untuk cek kadar protein, karbohidrat, dan sejenisnya, kami punya pakan sendiri. Sayang masih 'maju kena mundur kena'. Pengerjaan pakannya masih manual sementara ikan lele rampusnya luar biasa eh tenaga kami buat giling-giling pakan udah binasa :D
Vietnam juga memproduksi sendiri pakan ikannya. Pake peralatan canggih-canggih, buruhnya dibayar murah :P Mereka gak ambil dari pabrik pakan yang udah bonafid dari negara manapun. Karena mereka ngerjain sendiri, tidak ada ongkos kirim, bea cukai, pajak, dan segala macamnya itu. Pakan murah, dijualnya pun bisa lebih murah.
Pakan ikan yang ada di Indonesia kebanyakan buatan luar negeri. Terutama buatan Thailand. Termasuk yang saya suka beli. Pakan lokal juga ada dan produknya lakunya. Cuma sayang distribusinya gak banyak. Pakan lokal di Surabaya baru bisa menjangkau daerah sekitarnya. Di Bogor juga ada. Cuma tetep aja distribusi, promosi, masih kalah jauh dengan pakan buatan Thailand. Buat harga pakan lokal memang lebih murah 1.000 - 2.000. Cuma (lagi-lagi) banyak batasan pembelian minimal yang memberatkan petani ikan kayak kami ini.
Kondisi tersebut berkebalikan dengan kita di Indonesia. Pemerintah membuka keran lebar-lebar hingga negara lain bisa sederas-derasnya menjual produknya disini. Termasuk pakan ikan. Sementara pakan lokal tidak diperhatikan dan tidak didukung.
Sudah biasa kan mendengar nasib petani kismin-kismin melulu? karena akar dari semua jenis usaha peternakan yaitu pakannya mahal. Mau dijual pun jatohnya lebih mahal dibanding buatan Vietnam atau India.
Sebentar... ambil napas dulu. Eungap hehehe :)
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan kedua ada disini
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan kedua ada disini
Senin, 21 Oktober 2013
Setinggi-tingginya Wanita Bersekolah, Akhirnya Masuk Dapur Juga
Sebentar. Itu mukanya jangan mengkerut dulu. Maksud judulnya bukan seperti yang dikira.
Sebagai lulusan perguruan tinggi no 1 di Bandung, suami saya idealnya bekerja model-model eksekutif muda. Nenteng tablet, kemeja necis, sepatu mengkilap, dan kalo lagi jalan wangi parfum mahalnya menyeruak. Ini mah enggak. Suami saya lebih seneng ngurus kolam lele, macul tanah, bikinin saya meja, nyortir lele, dan semua pekerjaan lapangan lainnya. Tipikal red neck kalau di Amerika, mah.
Gak sedikit yang menyayangkan, lulusan ITB jadi petani lele. Susah payah masuknya, jungkir balik ngebiayainnya, kok milih bau-bauan dengan ikan lele? Kenapa gak berkarir di dunia arsitektur aja atau kembali menjalani profesi sebagai fotografer & multimediaman seperti sedia kala?
Kalo ngomongin gengsi, kerja kantoran memang punya kedudukan tinggi di mata kebanyakan orang tua-orang tua kita. Beda halnya dengan kerja model petani lele ini. Udah mah kerjanya pake celana pendek & kaos oblong yang lusuh, kerja sama yang kotor dan bau pula. Suami saya udah beberapa kali mempekerjakan pegawai biar lebih ringan dan bisa mengerjakan hal-hal yang lebih menuntut otak. Setahun ini udah ketemu pegawai yang cocok. Tapi dia lagi ditarik dulu kerja di Kedai Lele karena kekurangan pegawai.
Kalau ada keadaan yang menuntut seorang laki-laki harus bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, kenapa untuk wanita malah bisa kebalikannya?
Setinggi-tingginya perempuan sekolah, dimaafkan kalau akhirnya berkarir di rumah mengurus anak dan keluarga. Intinya kan berdedikasi menjadi Ibu. Logika ini harusnya diaplikasikan sama dengan laki-laki. Kerja apapun gak ada hubungannya dengan latar pendidikan, toh pada intinya menafkahi keluarga. Sekolahnya arsitek terus jadi petani lele, gak boleh?
Jadi petani lele atau arsitek, sama saja. Jenisnya saja yang berbeda. Tujuannya sama, duit. Bahasa halusnya mungkin 'menafkahi keluarga'.
Ilmu sekolahnya gak dipake dong?
Loh justru kepake banget. Apa kita jadi ibu terus ilmu yang kita enyam waktu sekolah gak kepake? Walau pada akhirnya pekerjaan yang suami dan saya lakoni gak sesuai dengan gelar pendidikan, ya sudah tutup bagian 'aduuuh percumanya' dan kita lirik dalam-dalam kebaikannya. Apa-apa yang kita jalani di sekolah selama bertahun-tahun itu gak sia-sia karena ilmu bukan pada mata kuliah aja kuncinya. Ilmu juga ada pada kehidupan sekolahnya, kehidupan manusianya.
Sekolah bikin saya punya rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Bangun pagi biar gak telat karena sekolah dimulai jam tujuh pagi. Seragam tertentu untuk hari tertentu. Belum lagi mengerjakan PR, belajar karena ada ulangan, kerja kelompok, menjawab pertanyaan guru. Banyak banget interaksinya. Kita punya pengalaman berinteraksi dengan orang banyak, pernah menerima dengan legowo dan pasrah amarah dosen, berantem sama temen gara-gara beda pendapat, begadang mengerjakan tugas, mengejar deadline, tetep masuk kelas walau gak suka guru/dosennya, iri dengki liat prestasi temen, dan masih banyak lagi.
Itu kan prosesnya gak percuma. Beberapa pegawai saya banyak yang sekolahnya nyampe SD dan SMP aja. Salah satunya pernah cerita, empat kali DO dari sekolahnya. Kenapa? saya tanya. Males, Bu, ketemu guru yang nyebelin. Jawab dia.
Ha? bisa ya gara-gara guru nyebelin terus mutusin gak mau sekolah. Baru kena tekanan seperti itu sudah menyerah. Sekolah yang kita enyam, ngajarin tekanan-tekanan yang gak kita sadari bisa membentuk kita (atau paling gak, saya) jadi kayak sekarang.
Sekolah, yang saya yakinin, adalah alat sekaligus perantara menemukan apa yang jadi kepengen kita. Sekolahnya arsitek dan profesinya jadi petani lele. Sekolahnya jurusan bahasa, jadinya Ibu. Ya tidak apa-apa. Yang kenapa-kenapa orang tua kita, sih. Bukan salahnya, itu hak mereka merasa kecewa meski kita gak suka. Tetap aja orang tua, harus kita hormati & respek maunya apa. Tinggal kita nih sebagai generasi orang tua muda, kunci generasi berikutnya, apa bisa mulai menghilangkan pameo 'sekolah dokter kuduna jadi dokter' atau (ini nih yang paling saya sebelin) 'matemetika+bahasa inggris=sukses'.
Buat ngerjain peternakan lele sampe Kedai Lele, dan Eazy Freezy ini, saya & suami udah lewati fase "udah lah kita balik jadi pegawai lagi aja" berkali-kali. Dia punya determinasi yang kuat. Saya punya bekal mengalami dunia usaha dan gen keturunan penjual ayam. Sepertinya takdir memang menyatukan kami.
Harga Eazy Freezy masih sama, rupa mulai berbeda. Sekarang mah udah ada labelnya horeee! Kemasan lebih cantik lah teu polos-polos teuing.
Ditunggu ya pesenannya. Sekarang jadwal pengirimannya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Harga masih sama, sekarang udah ada ongkos kirim. Dekat dengan pos pengiriman 5ribu, jauh dari pos 10ribu.
Ini daftar produknya Eazy Freezy:

(typo di desainnya mohon dimaafkan :D udah keburu cetak banyak euy)
Frozen Filet Ikan Lele
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu

Frozen Filet Golden Dory (Patin)
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu

Frozen Filet Gurame
250 gram - 25ribu
500 gram - 46ribu
1kilogram - 90ribu

Frozen Babyfish (anak-anaknya ikan Nila & ikan Mas)
150 gram - 12ribu
150 gram - 12ribu
250 gram - 20ribu
Sementara segitu dulu. Yang mau jadi reseller juga silakan banget nih butuh banget *halow halow yang di Jakarta mau jadi reseller gak, banyak yang pengen beli nih tapi saya tolak melulu karena ongkos kirim*
Kontak kami ada di :
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com
Label:
Eazy Freezy,
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Revolusi
Rabu, 16 Oktober 2013
Rome Was Not Built In A Day
Kedai Lele udah setahun euy umurnya. Alhamdulillah. Dulu waktu baru mulai usaha ini pernah ada yang bilang ke saya, bisnis kuliner -khususnya restoran/warung makan- itu bakal cuapek buanget. Saya menanggapinya dengan "ya..ya..ya pasti capek ya..ya..ya...".
Beuh aslinya... ternyata.. eh gak disangka... waktu baru sebulan menjalani Kedai Lele, rasanya mau berhenti aja. Gak nyangka secapek itu. Hehehe. Terkadang kalau lagi jam rame, susah makan, gak bisa duduk, stres karena masaknya ditungguin konsumen. Mana di Kedai Lele di deket kampus Telkom University itu segala proses masak & menyajikannya di depan konsumen. Bener-bener tekanan tinggi. Jadi sedikit2 mah tau kerjaan chef kayak gimana.
Bener kata Gordon Ramsay," When you're a chef, you graze. You never get a chance to sit down and eat". Angkat topi buat yang profesinya Chef. Sejuta jempol yang kerjanya di dapur terus-terusan.
Di Kedai Lele, saya belajar benar-benar dari dasarnya, yaitu ngepel, cuci piring, menyapu, ngelap, memasak, menyikat wc, dan masih banyak lagi yang sifatnya menguras fisik. Setelah itu saya beranjak ke level berikutnya: administrasi dan mengurus sumber daya manusia. Beres dengan perintilan teknis, saya pun berhadapan dengan bisnis yang sebenar-benarnya: apa yang harus saya lakukan agar produk saya laku di pasaran?
Kepengennya bayar yang jago marketing buat bantu saya biar dagangan laku. Tapi secara finansial belum sanggup. Jadilah saya bagi-bagi tugas sama kru yang ada aja.
Pengalaman saya dalam berwirausaha memang belum banyak. Kedai saya masih kecil. Setahun belum jadi apa-apa, belum jadi siapa-siapa. Tapi sudah satu tahun bertahan, itu juga tidak mudah. Setahun dan i still want to have thousand more years ahead, yes.
Kota Roma aja gak beres dibangun dalam sehari, apalagi Kedai Lele.
Kedai Lele jalan terus, malah kepengen mah buka cabang dimana-mana. Sambil mewujudkan itu, saya mau keluarin menu baru di bulan ini. Dua menu baru yang bahan utamanya daging ikan lele.
Bukan cuma itu aja, sih. Ehem, siap-siap nih, mau promosi :))
Saya juga lebarin sayap ke produk yang lain tapi sejenis. Bukan berarti tidak fokus di Kedai Lele. Ya ibaratnya Steve Jobs ngeluarin Macbook terus dia juga bikin Ipod. Lah saya juga bikin Kedai Lele, terus bikin Eazy Freezy.
Postingan lalu saya pernah posting panjang, ngiklan disini jualin Lele Fillet Frozen. Cuma waktu itu belum ada mereknya. Baru dapat nih hari jumat kemarin Launching produknya pun minggu depan, nunggu kemasan dicetak dulu. hehehe. Jadi yah belum bisa menyertakan foto dulu disini.
Lele Fillet Frozen dibawah bendera Eazy Freezy ini tersedia ukuran 250 gram (17ribu), 500 gram (31ribu) dan 1 kg (60ribu). Kalau mau jadi reseller, ada harga khusus reseller juga nih.
Call me call me kalau mau beli lele filet frozennya ya. Komen disini. Email juga bisa. Cuma ya itu, masih buat yang domisili Bandung euy. Beli minimal yang 500 gram, dianter sampai rumah, ongkos kirim gratis dulu, bayar pas barang udah nyampe.
Siplaaa :)
Kontak:
Kontak:
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com
Label:
Eazy Freezy,
fillet lele,
frozen lele,
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Kedai Lele,
Revolusi
Selasa, 08 Oktober 2013
Keep Me Cool, Keep Me Frozen
Kalau belanja ikan, saya sukanya ke pasar. Sejak menikah, belanja buat masak di rumah, saya gak pernah belanja di supermarket. Di pasar lebih menyenangkan karena harganya lebih murah. Lagipula, gak ada supermarket di Ciparay.
Ikan yang suka kami makan adalah ikan-ikan lokal kayak mas, nila, lele dan kembung. Buat anak, seringnya saya suapin daging ikan lele sama ikan kembung. Tapi ikan kembung buat anak mulai berhenti karena ikan laut, takut kandungan merkurinya dan bahan pengawetnya gak tau apa. Kalau buat diri sendiri mah masih jalan terus.
Nah kalau salmon yang populer di kalangan ibu-ibu muda, justru belum pernah saya beli. Belum satu kalipun saya cekokin ikan salmon ke anak saya. Kata ibu-ibu kebanyakan, ikan salmon bagus. Gizinya mantap. Bener juga. Tapi gimana ya… harganya eeur.. m a h a l .
Nah kalau salmon yang populer di kalangan ibu-ibu muda, justru belum pernah saya beli. Belum satu kalipun saya cekokin ikan salmon ke anak saya. Kata ibu-ibu kebanyakan, ikan salmon bagus. Gizinya mantap. Bener juga. Tapi gimana ya… harganya eeur.. m a h a l .
Terus karena pengen tahu aja, saya browsing. Sebagus itu ya ikan salmon?
Twewew. Gak juga ah. Kita punya ikan lokal yang setara gizinya dengan Salmon. Harganya lebih terjangkau. Buat dapetinnya juga lebih mudah, bisa lebih segar pula karena jarak pengiriman yang lebih dekat. Ikan apa itu? Lah udah saya sempet sebutin tadi diatas:
Ikan Lele.
Ah pasti udah pada mikir ini saya mau promosi. Nih saya kasitau: emang . Hehehe. Disamping berKedaiLele, ada satu usaha lagi yang lagi saya & suami kembangin bersama seorang teman sesama petani juga. Jenis usaha ini gak jauh dari ikan lele juga. Pengembangan usaha, nah itu dia namanya.
Lele Fillet Frozen. Yup, lele beku tanpa duri tanpa tulang. Ini yang mau kami jual. Apa bakal laku? Belum tau. Saya berpegang ke kata-kata nya opa saya aja, Steve Jobs: How does somebody know what they want if they haven’t even seen it? Nah, ini saya sediain Lele frozennya, filet pula :D
Ikan Lele.
Ah pasti udah pada mikir ini saya mau promosi. Nih saya kasitau: emang . Hehehe. Disamping berKedaiLele, ada satu usaha lagi yang lagi saya & suami kembangin bersama seorang teman sesama petani juga. Jenis usaha ini gak jauh dari ikan lele juga. Pengembangan usaha, nah itu dia namanya.
Lele Fillet Frozen. Yup, lele beku tanpa duri tanpa tulang. Ini yang mau kami jual. Apa bakal laku? Belum tau. Saya berpegang ke kata-kata nya opa saya aja, Steve Jobs: How does somebody know what they want if they haven’t even seen it? Nah, ini saya sediain Lele frozennya, filet pula :D
Kami cuma ngeliat bahwa ada peluang disini. Setelah keliling keluar masuk supermarket di Bandung utara sampai Bandung selatan, kami lihat belum ada satu pun yang menjual Lele Fillet Frozen. Kalau ikan-ikan lain (terutama yang ikan impor) malah banyak banget: tuna dan ya si salmon, misalnya.
Kalau banyak ibu-ibu, chef-chef, atau siapapun yang suka masak ikan-ikan fillet impor, kenapa gak mulai beralih ke ikan (filet beku) lokal? Ada lele dan patin. Harga lebih murah, tidak ada jejak karbon yang tinggi, dan bisa saling mensejahterakan. Ditambah kadar nutrisinya juga gak jauh beda. Nah kalau lele fillet beku punya saya lebih sehat, tanpa bahan pengawet, malah.
Jalur ikan lele jadi beku yang saya produksi cuma gini aja:
Piara lele sampe guede segede betis orang setinggi 160 cm berat 80 kg - putusin kepala ikan lelenya - fillet badannya - cuci - cuci - cuci sampe bersih - masukin kemasan - masukin freezer.
Buat Ibu-ibu yang mau beli lele fillet frozen punya saya, tersedia berat yang 250 gr (17ribu), 500 gr (31ribu), dan 1 kg (60ribu). Lele fillet frozen punya saya tinggal di defrost, dibumbuin, goreng/panggang, dimakan. Kalau mau dicuci lagi juga bisa, tapi da udah saya cuci sampe bersih-sebersih-bersihnya sebelum masuk kemasan.
Piara lele sampe guede segede betis orang setinggi 160 cm berat 80 kg - putusin kepala ikan lelenya - fillet badannya - cuci - cuci - cuci sampe bersih - masukin kemasan - masukin freezer.
Buat Ibu-ibu yang mau beli lele fillet frozen punya saya, tersedia berat yang 250 gr (17ribu), 500 gr (31ribu), dan 1 kg (60ribu). Lele fillet frozen punya saya tinggal di defrost, dibumbuin, goreng/panggang, dimakan. Kalau mau dicuci lagi juga bisa, tapi da udah saya cuci sampe bersih-sebersih-bersihnya sebelum masuk kemasan.
Kalau tertarik mau beli lele filet frozen saya mangga komen disini, tinggal pilih mau lele dengan berat berapa, berapa bungkus, dan sebutin mau diantar kemana ntar saya anterin. Ada minimal pembelian, yaitu 500 gr seharga 31ribu.
Detil harganya:
250 gr = 17.000
500 gr = 31.000
1 kg = 60.000
Filet Ikan Golden Dory (Patin)
250 gr = 17.000
500 gr = 31.000
1 kg = 60.000
Filet Ikan Gurame
250 gr = 25.000
500 gr = 46.000
1 kg = 90.000
Kontak saya :
filet.ikan@gmail.com
BBM di 7CDBAA49
WA 0812.2005.4556
Label:
Eazy Freezy,
fillet lele,
frozen lele,
jadi peternak lele
Kamis, 03 Oktober 2013
Loh Kemana Aja Petani Lele?
Rasanya sudah lama gak posting disini. Sebulan dua bulan. Ah parah sekali. Saya keasyikan ngurus blog sendiri, mungkin :D
Ternak lele saya lagi off dulu. Kehabisan modal. Eits berkegiatan dengan ikan lele mah masih. Saya kan punya Kedai Lele. Sekarang saja jadi juru fillet. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan... saya lebih milih kata: SECEPATNYA begitu ada dana buat ber-lele lagi, saya kembali jadi fitrah sayajadi petani lele. Sayang banget soalnya ini pakan lele udah saya buat. Saya bikin sendiri. Eh malah kehabisan ikan lelenya. Heuheuheu.
Sekarang saya bersama seorang teman sesama peternak ikan juga sedang menyusun rencana. Sebelum jadi, saya gak bisa cerita banyak disini. Takut sompral.
Saya punya beberapa ide, rencana, tapi semuanya mentok di modal. Sebel ya nonton di tv orang-orang pada punya uang eh malah ngabisin duit mereka gitu-gitu aja. Mbok ya kasih ke saya gitu. Huufht :D
Modal duit abis, semangat gak boleh putus. Yes?
Ternak lele saya lagi off dulu. Kehabisan modal. Eits berkegiatan dengan ikan lele mah masih. Saya kan punya Kedai Lele. Sekarang saja jadi juru fillet. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan... saya lebih milih kata: SECEPATNYA begitu ada dana buat ber-lele lagi, saya kembali jadi fitrah sayajadi petani lele. Sayang banget soalnya ini pakan lele udah saya buat. Saya bikin sendiri. Eh malah kehabisan ikan lelenya. Heuheuheu.
Sekarang saya bersama seorang teman sesama peternak ikan juga sedang menyusun rencana. Sebelum jadi, saya gak bisa cerita banyak disini. Takut sompral.
Saya punya beberapa ide, rencana, tapi semuanya mentok di modal. Sebel ya nonton di tv orang-orang pada punya uang eh malah ngabisin duit mereka gitu-gitu aja. Mbok ya kasih ke saya gitu. Huufht :D
Modal duit abis, semangat gak boleh putus. Yes?
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Kedai Lele
Rabu, 04 September 2013
September Ikan Lele Ngapain?
Sudah September. Saya belum posting tulisan terbaru. Ini pun sekedar memberi presensi biar blog gak keliatan mati. Arrgh.
Nulis apa ya... arrgghhh
Nulis apa ya... arrgghhh
Sabtu, 17 Agustus 2013
Ternak Lele Bersaing Dengan Tempat Pemancingan
Dulu banyak yang punya lele ukuran BS meski gak ada yang beli ukuran lele tersebut. FYI, lele bs ini ukurannya gede-gede. Segede paha orang dewasa :)
Ada satu tempat yang membeli lele-lele gede ini. Tempat pemancingan. Memang ada waktu dimana tempat pemancingan lele belum seramai sekarang. Di waktu-waktu sebelumnya lebih banyak tempat pemancingan ikan mas dan nila. Jadi buat pemilik tempat makan kayak saya yang butuh lele bs ini ya dulu lele seperti itu masih gampang dicari, masih bisa tanya kiri kanan dan bisalah dapet 1 - 2 kwintal.
Berhubung lele sendiri lagi abis (berikut modal ternak lelenya :D), kami sekarang beli lele ke temen-temen petani lele. Kehadiran tempat pemancingan lele ini menimbulkan kondisinya berbeda. Tempat pemancingan lele banyak sekali dan ini artinya panji persaingan kami dengan mereka dimulai.
Dengan kapasitas kami sekarang, lele yang bisa kami terima kira-kira 500kg per bulan. Kami belinya nyicil kira-kira 1 kwintal per minggu. Sementara pemancingan lele sekali beli bisa 1 ton. Bayangkan posisi kami di mata petani lele: cuma bisa beli nyicil 1 kwintal per minggu sementara ada yang sanggup beli sekaligus 1 ton, ya mending duluin yang 1 ton lah. Kata mereka.
Haiyah. Macam kehabisan modal saja belum cukup kami ini ahahahahahahaha hiiks...
Label:
jadi peternak lele,
pemancingan lele
Telat Mengucapkan:
Selamat Lebaran! Semoga hari-hari besok makin barokah buat kita semua.
Selamat hari kemerdekaan! Semoga pemerintah bisa mengontrol harga cabe & bawang biar pegiat kuliner kayak Kedai Lele saya itu gak naikin harga menu melulu dan sejahtera selalu. Amin.
Selamat hari kemerdekaan! Semoga pemerintah bisa mengontrol harga cabe & bawang biar pegiat kuliner kayak Kedai Lele saya itu gak naikin harga menu melulu dan sejahtera selalu. Amin.
Jumat, 19 Juli 2013
HP Idaman Peternak Lele
Ngacung, siapa yang hapenya pernah nyemplung ke kolam?
Ngaku, siapa yang pernah ngerasain pas lagi sibuk nyortir, basah-basahan, terus ada yang nelpon?
Ngaku & ngacung, siapa yang pernah ngerasain waktu lagi benerin pompa air terus airnya nyebrot ke baju terus hape kita kebasahan?
Kalo saya sih udah semuanya. Hahahaha. Kesel, jelas. Bukan cuma rugi duitnya tapi juga keribetan yang ada tiap kali mau ganti hape. Semua nomer temen dan rekan bisnis hilang. Mesti pengumuman sana-sini buat ngumpulin lagi nomer kontak. Habis itu masukin satu-satu nomer kontak yang hilang. Ah menyebalkan.
Jadi kepikiran juga, sebenernya jenis ponsel buat jenis orang kayak saya ini, petani lele/peternak lele, yang kayak gimana?
- Tahan air. Ini nilai mutlak. Gak lucu rasanya beli hape lagi dan lagi gara-gara kena air terus
- Tombolnya gampang dipencet. Kalo lagi nyortir atau lagi panen, kondisi jibrug dan kadang-kadang berlumpur pula, paling males kalo harus nyari-nyari tombol kecil. Nah kalau touchscreen saya belum pernah coba karena bukan pemakai ponsel touchscreen :P
- Tahan ganting. Tegar. Tabah. Kuat. Tangguh. Intinya gak gampang rusak, soalnya pasti ada aja di kolam itu kejadian terjatuh, tergelincir, dll
- Bisa internetan (rasanya semua hape sekarang udah bisa internetan ya, kecuali hape yang saya pakai sekarang. hahahaha)
- Kamera, dong!
- Ada GPS, buat nyari posisi kolam temen kalo mau berkunjung
Ada beberapa hp yang saya udah incer, sih. Sayang aja duitnya belum ada. Tapi kelak saya pengen beli yang ini nih:
Samsung Galaxy XCover 2
Harganya kalau gak salah 3 jutaan. Touch screen. Memenuhi semua kriteria saya. Meski secara teknologi dia termasuk gak canggih-canggih amat, tapi kemampuan bertahannya bisa jadi andalan.
Sony Xperia Z
Nah ini. Ini dia. Ini! Mahal buanget. Harganya 7jutaan. Layar 5 inci, cocok buat mata saya yang udah berumur diatas 30 tahun. Hahahaha. Tapi emang spesifikasinya canggih, sih. Kriteria saya juga masuk semua. Huaaaaa! Pengen pengen pengen!
Kamis, 11 Juli 2013
Yuuuhuuuw Isi Pollingnya Doong
Yak.
Jikalau sudah membaca blog saya, sudilah kiranya mengisi polling di sebelah kiri layar PC teman-teman sekalian :) Udah mau seminggu nih baru dua aja yang ngisi, kasihanilah kami. hehehehe :D
Hatur nuhun, terima masih.
Selasa, 09 Juli 2013
Ikut-ikutan Bikin Resto Makannya Lele Hehehe :D
Waktu kami memutuskan bikin Kedai Lele, perjalanannya panjang. Hampir setahun untuk mewujudkannya. Mulai dari ide, mencari konsep, membuat proposal, menentukan pasar, membuat menu, menetapkan harga, sampai ngefillet dan mencuci lelenya sendiri, whuah mengeluarkan banyak sekali rupiah dan keringat. Tidak ada mudahnya sama sekali jadi wirausaha itu. Hehehe :D
Kami bukan yang pertama membuat usaha ini, Kedai Lele. Beberapa tahun belakangan ini gak sedikit yang mengangkat ikan lele jadi menu utama di restoran. Pecel Lele Lela jadi pelopornya. Selamat, kang Rangga :) kami mengekor, terima kasih sudah membuka jalannya. Hehehe :D
Tentu saja kami gak keberatan dibilang pengikut. Tak apa. Biar gak terus-terusan dilabeli 'ikut-ikutan', kami membuat konsep Kedai yang sederhana saja. Bukan restoran besar, ya kecil-kecil saja. Kalo diperhatikan, tempatnya gak cocok buat kongkow-kongkow karena kami menerapkan sistem lele fast-food dan tidak menyediakan AC dan WIFI. Etapi kalau mau ngobrol-ngobrol seru bisa juga sih. Kepengennya mah Kedai Lele kami ini low profile, high profit. Sedang menuju kesana nih. Hehehe :D
Menu di Kedai Lele (cuma) ada tujuh saja. Ya baru segitu karena mau nambah gak jadi-jadi. Perlu waktu karena kami harus browsing resep, belanja & nyoba masak di dapur rumah, habis itu dicoba rasanya. Beberapa kali gagal. Jarang yang langsung berhasil. Tapi kami terus nyoba resep-resep baru. Semoga saja menjelang satu tahun Kedai Lele sudah ada tiga atau empat menu baru ya. Hehehe :D
Lele di Kedai Lele tidak bertulang, tidak berduri. Mereka tinggal dimakan saja karena sudah kami fillet dan kami cuci bersih sebersih-bersihnya. Sebagaimana yang kita tahu, lele yang paling beken dalam hidangan ya Pecel Lele. Nah kami tidak juga itu, tidak jual pecel lele. Apapun kami coba sedang buat menunya, tapi tidak Pecel Lele. Hehehe :D
Lele di Kedai Lele tidak bertulang, tidak berduri. Mereka tinggal dimakan saja karena sudah kami fillet dan kami cuci bersih sebersih-bersihnya. Sebagaimana yang kita tahu, lele yang paling beken dalam hidangan ya Pecel Lele. Nah kami tidak juga itu, tidak jual pecel lele. Apapun kami coba sedang buat menunya, tapi tidak Pecel Lele. Hehehe :D
Sampai saat ini, kalau sedang banyak konsumen yang makan di Kedai Lele, dalam waktu sebulan kami butuh hampir 4 kwintal ikan lele ukuran 2 - 4 ekor/kilonya. Kami punya kolam sendiri dan menternakan lelenya sendiri juga. Sayangnya sering keteteran karena jumlah kolam yang tidak banyak. Jikalau teman-teman sekalian membaca ini dan kalian adalah petani lele di Bandung, boleh kontak kami kalau hendak menjual lele-lelenya sesuai syarat yang kami mau itu. Harganya kalau sama saya biasanya gak lebih dari 13ribu/kilonya. Nego via email, hp, atau ketemu langsung. Hehehe :D
Segini dulu ceritanya.
Label:
jadi peternak lele,
Kedai Lele,
Revolusi
Lele Puasa
Halow.
Sudah bulan Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga bulan ini memberi keberkahan di bulan-bulan berikutnya. Lelenya sehat, lelenya laku, dan kita semua sejahtera. Amin.
-Indra & Ulu
Langganan:
Komentar (Atom)






