Waktu datang waktunya harus punya pegawai, saya menghadap Bu RT dan minta didatangkan penduduk perempuan di kampung belakang rumah yang nganggur gak ada pekerjaan. Datanglah dua orang nenek-nenek ini.
Agak susah ngajarin mereka filet ikan. Lebih sulit lagi menerapkan standar kebersihan. Tapi hampir dua tahun berlalu, mereka lebih jago ngefilet ikannya daripada saya hehehehe. Kebersihannya juga sama, bagus!
Keduanya janda. Sehari-hari bekerja di sawah kalau jadwal produksi filet ikan sedang libur. Bu Oneng dan Bu Nonoh namanya. Masih jagjag kuat padahal usianya senja. Lucu-lucu, apalagi kalau lagi ngegosipin tetangga hahaha uups
Sementara ini masih cukup dua orang pasukan. Kalau pesenan lagi buanyak, saya sih turun tangan juga. Hhehe. Mudah-mudahan tambah pegawai nih Eazy Freezy. Amin
Tampilkan postingan dengan label pegawai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pegawai. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Mei 2014
Pasukan Filet Ikan Eazy Freezy
Kamis, 11 Juli 2013
Yuuuhuuuw Isi Pollingnya Doong
Yak.
Jikalau sudah membaca blog saya, sudilah kiranya mengisi polling di sebelah kiri layar PC teman-teman sekalian :) Udah mau seminggu nih baru dua aja yang ngisi, kasihanilah kami. hehehehe :D
Hatur nuhun, terima masih.
Rabu, 26 Juni 2013
Pegawai Ideal di Peternakan Lele
It pays to be smart.
Saya mau bahas pegawai lagi nih. Anggap curhat. Hehehe. Seperti yang kita -peternak lele- sudah tahu, atau kalo kamu belum tau, ini saya kasihtau: jadi peternak ikan itu gampang-gampang susah. Lagipula, mana ada ya pekerjaan di dunia ini yang gak ada susahnya :D jadi koruptor aja susah.
Kalo di dunia peternakan lele pekerjaannya dibilang gampang karena kerjaan praktisnya seperti gak usah pake mikir & lebih banyak menggunakan tenaga fisik saja. Otot yang bicara. Otot yang bergerak.
Kalo di dunia peternakan lele pekerjaannya dibilang gampang karena kerjaan praktisnya seperti gak usah pake mikir & lebih banyak menggunakan tenaga fisik saja. Otot yang bicara. Otot yang bergerak.
Nih saya kasihtau lagi. Yang kelihatannya kerja fisik itu adalah semu. Kerja fisiknya gak mungkin berjalan kalau tidak ada taktik, strategi dan kemampuan mencerna seluruh informasi yang ada. Oh sama satu lagi: bisa memutuskan secara cepat apa yang harus dilakukan.
Kebutuhan itu yang saya inginkan pegawai saya bisa penuhi. Sayangnya semua itu juga yang belum saya dapatkan dari mereka (dia, maksudnya, karena pegawai saya cuma satu. Mereka, merujuk pada mantan-mantan pegawai saya juga). Secara umum semuanya bisa bekerja di kolam, etapi sayangnya banyak yang kerja sebatas ototnya saja. Kerja kalau sudah saya perintah. Kerja yang itu-itu saja. Amat sangat jarang ada inisiatif yang muncul. Tidak ada pertanyaan yang terucap. Hanya iya dan iya. Ngopi, kerja, ngudud, kerja, ngudud lagi. Otaknya pada kesedot asap & racun rokok mungkin :D
Ini bukan jaman feodal. Saya bukan penjajah. Bukan majikan satu arah. Saya mau ada hubungan dua arah. Saya guru, pegawai saya murid. Murid bisa bekerja, lalu berpikir, terus menganalisis, akhirnya memberi ide. Guru ngajarin, mengawasi, memberi masukan, mengarahkan, menilai. Apa kepengen saya berlebihan ya? Apa saya menuntut terlalu banyak?
Ini bukan jaman feodal. Saya bukan penjajah. Bukan majikan satu arah. Saya mau ada hubungan dua arah. Saya guru, pegawai saya murid. Murid bisa bekerja, lalu berpikir, terus menganalisis, akhirnya memberi ide. Guru ngajarin, mengawasi, memberi masukan, mengarahkan, menilai. Apa kepengen saya berlebihan ya? Apa saya menuntut terlalu banyak?
Saya menyayangkan ini sih. Pada muda-muda, otak masih kondisi bagus. Kenapa hanya mampu melihat pekerjaan hari ini? Saya membayangkan pegawai saya sanggup melihat jangka panjang. Tentang apa yang akan dia lakukan enam bulan setelah bekerja di peternakan saya.
Jadi orang pinter itu gampang. Jadi orang cerdas yang ga gampang. Ah yasudah kita lihat jalannya bakal kemana. Saat ini pegawai ideal kriteria saya belum dikabulkan sama Gusti Allah :D
Jadi orang pinter itu gampang. Jadi orang cerdas yang ga gampang. Ah yasudah kita lihat jalannya bakal kemana. Saat ini pegawai ideal kriteria saya belum dikabulkan sama Gusti Allah :D
Rabu, 29 Mei 2013
Susah Menjaga Konsistensi (Tanpa Ijazah)
Sistem dunia kerja yang kita tahu adalah outsourcing dan kontrak kerja. Masuk diminta ijazah, keluar diminta denda.
Saya gak mau bikin sistem begitu. Tidak manusiawi. Belakangan kondisi memaksa saya berpikir ke arah kontrak kerja. Perspektif baru muncul karena kekecewaan yang berulang-ulang. Kontrak kerja oke juga. Namun, dengan apa saya menahan mereka -yang melamar jadi pegawai-? Ijazah?
Apa perlunya lulusan SD atau SMP bekerja dengan modal ijazahnya? Saya butuh tenaga mereka. Saya kasih duit sebagai timbal baliknya. Tanpa mereka sadari, saya juga senang berbagi ilmu & pengalaman kerja. Ilmu menghitung, ilmu menganalisa, ilmu bikin prioritas. Sayangnya mereka melihat pendek. Sedikit yang bisa melihat panjang ke masa depan. Apa yang mereka kerjakan pada awalnya dan pada sebagian besar masa bekerjanya hanya pekerjaan yang menuntut tenaga fisik. Seiring dengan kefasihan mereka bekerja dan kesalahan-kesalahan yang terjadi di lapangan, mereka mendapat 'lebih'. Kelebihan itu yang namanya ilmu. Kelak ketika mereka mau buka usaha peternakan sendiri atau tempat makan sendiri, mereka sanggup melakukannya.
Karate Kid membuktikan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang tidak melulu membosankan bila dikerjakan sambil berpikir. Gerakan mengecat pagar naik turun bisa jadi gerakan melawan musuh. Gerakan mengelap dengan tangan berputar-putar di kap mobil terbukti bisa jadi gerakan menangkis serangan lawan.
Saya pikir juga begitu yang terjadi di Kolam dan di Kedai Lele saya. Pekerjaannya melelahkan: bergelut dengan yang kotor-kotor & bau anyir. Bekerja di Kedai Lele saya juga apalagi, bekerjanya dibawah tekanan konsumen. Memasak harus cepat tapi tepat. Wajah tetap ramah dan semuanya, bagaimanapun chaosnya, harus bersih.
Banyak pegawai-pegawai saya terdahulu menyerah. Tidak kuat kecapekan. Tidak sanggup kotor-kotoran. Tidak mau banyak dapat tanggungan pekerjaan.
Kadang saya bertanya-tanya. Apakah saya terlalu jauh mendorong mereka untuk bekerja atau otaknya pada gak kesampaian untuk melaksanakan tugasnya? Misteri kebodohan ini harus segera diselesaikan karena saya butuh pegawai dengan konsistensi yang baik. Bukan datang untuk pergi tiga hari kemudian.
Apa perlu lulusan SMA dan Universitas bekerja dengan modal ijazahnya? banyak yang masih menggangapnya perlu. Saya tidak. Tapi berdasarkan pengalaman saya, untuk sementara menahan ijazah adalah kunci semua masalah kepegawaian. Seandainya ada lulusan tingkat kampus mau bekerja dengan saya di peternakan, saya mau mengajaknya. Kalau saja ada lulusan universitas yang mau bekerja di dapur saya di Kedai Lele, saya pasti menerimanya. Saya minta ijazahnya. Saya tahan ijazahnya. Demi konsistensi.
Demi Tuhan.
Saya gak mau bikin sistem begitu. Tidak manusiawi. Belakangan kondisi memaksa saya berpikir ke arah kontrak kerja. Perspektif baru muncul karena kekecewaan yang berulang-ulang. Kontrak kerja oke juga. Namun, dengan apa saya menahan mereka -yang melamar jadi pegawai-? Ijazah?
Apa perlunya lulusan SD atau SMP bekerja dengan modal ijazahnya? Saya butuh tenaga mereka. Saya kasih duit sebagai timbal baliknya. Tanpa mereka sadari, saya juga senang berbagi ilmu & pengalaman kerja. Ilmu menghitung, ilmu menganalisa, ilmu bikin prioritas. Sayangnya mereka melihat pendek. Sedikit yang bisa melihat panjang ke masa depan. Apa yang mereka kerjakan pada awalnya dan pada sebagian besar masa bekerjanya hanya pekerjaan yang menuntut tenaga fisik. Seiring dengan kefasihan mereka bekerja dan kesalahan-kesalahan yang terjadi di lapangan, mereka mendapat 'lebih'. Kelebihan itu yang namanya ilmu. Kelak ketika mereka mau buka usaha peternakan sendiri atau tempat makan sendiri, mereka sanggup melakukannya.
Karate Kid membuktikan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang tidak melulu membosankan bila dikerjakan sambil berpikir. Gerakan mengecat pagar naik turun bisa jadi gerakan melawan musuh. Gerakan mengelap dengan tangan berputar-putar di kap mobil terbukti bisa jadi gerakan menangkis serangan lawan.
Saya pikir juga begitu yang terjadi di Kolam dan di Kedai Lele saya. Pekerjaannya melelahkan: bergelut dengan yang kotor-kotor & bau anyir. Bekerja di Kedai Lele saya juga apalagi, bekerjanya dibawah tekanan konsumen. Memasak harus cepat tapi tepat. Wajah tetap ramah dan semuanya, bagaimanapun chaosnya, harus bersih.
Banyak pegawai-pegawai saya terdahulu menyerah. Tidak kuat kecapekan. Tidak sanggup kotor-kotoran. Tidak mau banyak dapat tanggungan pekerjaan.
Kadang saya bertanya-tanya. Apakah saya terlalu jauh mendorong mereka untuk bekerja atau otaknya pada gak kesampaian untuk melaksanakan tugasnya? Misteri kebodohan ini harus segera diselesaikan karena saya butuh pegawai dengan konsistensi yang baik. Bukan datang untuk pergi tiga hari kemudian.
Apa perlu lulusan SMA dan Universitas bekerja dengan modal ijazahnya? banyak yang masih menggangapnya perlu. Saya tidak. Tapi berdasarkan pengalaman saya, untuk sementara menahan ijazah adalah kunci semua masalah kepegawaian. Seandainya ada lulusan tingkat kampus mau bekerja dengan saya di peternakan, saya mau mengajaknya. Kalau saja ada lulusan universitas yang mau bekerja di dapur saya di Kedai Lele, saya pasti menerimanya. Saya minta ijazahnya. Saya tahan ijazahnya. Demi konsistensi.
Demi Tuhan.
Minggu, 26 Mei 2013
Berburu Pegawai Budiman
Bagaimana memulai menulis untuk tema ini ya...
Here the story goes lah.
Menjadi wirausahawan tidak bisa dilakukan sendirian. Harus ada pelengkap yang menjadi perpanjangan kaki dan tangan kita. Namanya Sumber Daya Manusia. Bahasa yang lebih sederhananya mah Pegawai.
Bekerja di peternakan tidak butuh soft skill tinggi. Menjadi pegawai di tempat seperti ini modal utamanya otot. Begitu juga dengan bekerja di tempat makan yang saya sudah bangun hampir delapan bulan ini, Kedai Lele. Kepintaran adalah bonus. Kecerdasan itu nilai plus.
Angka pengangguran di Jawa Barat 1.815.266. Bayangkan, ada satu juta orang di Jawa Barat yang butuh pekerjaan. Untuk dapat satu orang saja dari satu juta orang itu saya kesulitan setengah mati. Pada kemana orang-orang itu? Apa yang mereka cari? Apa mereka tidak butuh uang? Apa mereka tidak mau belajar?
Berbagi pengalaman mencari pegawai tidak bisa habis dalam satu postingan. Terlalu panjang. Terlalu banyak emosi negatif yang ikut serta didalamnya. Tidak baik. Walo begitu, ada juga cerita serunya, bagian dimana kita bisa memberi salut dan respek pada seseorang. Warna-warni ceritanya. Saya potong ceritanya jadi beberapa bagian.
Pada intinya, menyediakan lahan pekerjaan sebundel dengan kesabaran dan kemampuan kita menghadapi kelakuan manusia. Pantas saja ada orang yang mau dibayar untuk mengurusi karyawan, pegawai, anak buah, dan sejenisnya. Pusing cuy. Ibaratnya ngurusin lele, ngurusin pegawai juga sama ribetnya. Bedanya, lele gak kita kasih gaji sementara pegawai itu harus.... ah yasudahlah, manusia & hewan bukan untuk dibandingkan meski banyak orang yang saya tahu, tidak jauh lebih baik daripada otak seekor monyet.
Here the story goes lah.
Menjadi wirausahawan tidak bisa dilakukan sendirian. Harus ada pelengkap yang menjadi perpanjangan kaki dan tangan kita. Namanya Sumber Daya Manusia. Bahasa yang lebih sederhananya mah Pegawai.
Bekerja di peternakan tidak butuh soft skill tinggi. Menjadi pegawai di tempat seperti ini modal utamanya otot. Begitu juga dengan bekerja di tempat makan yang saya sudah bangun hampir delapan bulan ini, Kedai Lele. Kepintaran adalah bonus. Kecerdasan itu nilai plus.
Angka pengangguran di Jawa Barat 1.815.266. Bayangkan, ada satu juta orang di Jawa Barat yang butuh pekerjaan. Untuk dapat satu orang saja dari satu juta orang itu saya kesulitan setengah mati. Pada kemana orang-orang itu? Apa yang mereka cari? Apa mereka tidak butuh uang? Apa mereka tidak mau belajar?
Berbagi pengalaman mencari pegawai tidak bisa habis dalam satu postingan. Terlalu panjang. Terlalu banyak emosi negatif yang ikut serta didalamnya. Tidak baik. Walo begitu, ada juga cerita serunya, bagian dimana kita bisa memberi salut dan respek pada seseorang. Warna-warni ceritanya. Saya potong ceritanya jadi beberapa bagian.
Pada intinya, menyediakan lahan pekerjaan sebundel dengan kesabaran dan kemampuan kita menghadapi kelakuan manusia. Pantas saja ada orang yang mau dibayar untuk mengurusi karyawan, pegawai, anak buah, dan sejenisnya. Pusing cuy. Ibaratnya ngurusin lele, ngurusin pegawai juga sama ribetnya. Bedanya, lele gak kita kasih gaji sementara pegawai itu harus.... ah yasudahlah, manusia & hewan bukan untuk dibandingkan meski banyak orang yang saya tahu, tidak jauh lebih baik daripada otak seekor monyet.
Selasa, 03 Juli 2012
Mencari Pegawai #2: Apakah Berjodoh?
Pegawai sudah ada. Akhirnya. Berkat bantuan teman sesama makmum jumatan, saya dikenalkan pada bapak umur 50tahunan. Sekarang ia yang membantu saya di balong lele.
Sudah mau tiga hari, mang Andi ikut beternak lele. Orangnya nurut, rajin, dan pendiam. Ini hari ke empat, mang Andi tidak datang. Bolos. Kenapa ya...
Waduh...semoga mang Andi besok nongol lagi. Banyak yang pengen saya kerjain tapi gak mungkin sendirian. Tangan cuma dua nih, sehari cuma 24 jam nih.
Sudah mau tiga hari, mang Andi ikut beternak lele. Orangnya nurut, rajin, dan pendiam. Ini hari ke empat, mang Andi tidak datang. Bolos. Kenapa ya...
Waduh...semoga mang Andi besok nongol lagi. Banyak yang pengen saya kerjain tapi gak mungkin sendirian. Tangan cuma dua nih, sehari cuma 24 jam nih.
Senin, 30 April 2012
Mencari Pegawai #1: Gagal Maning Gagal Maning
Sesuai yang sudah saya perkirakan, mengurus peternakan lele ini sendirian hanya menambah urat-urat di badan ini bertambah asam. Uban bermunculan. Dan pekerjaan lain (agak) terbengkalai. Ini gak bisa dibiarkan lama-lama. Maka saya menghubungi beberapa teman, menanyakan perihal pegawai. Siapa tahu ada yang mau bekerja di peternakan saya ini.
Gak hanya teman yang coba membantu. Alam juga mendengar rupanya :D Tiba-tiba kerabat jauh menawarkan anaknya untuk jadi pegawai. Gayung bersambut. Saya cocok dengan pegawai saya. Begitupun dia. Ahmad namanya.
Kehadiran Ahmad sangat membantu pekerjaan saya. Keasaman urat-urat saya berkurang. He..he..he.. Namun Ahmad yang ditemani istri dan seorang anaknya ini hanya bertahan enam hari. ENAM HARI! Oh tidak! Istrinya tidak betah, Ahmad mengantar istrinya pulang, dan mereka pun tidak pernah kembali lagi.
Nasib...
Sekarang kembali ke pencarian. Konon lapangan kerja di negeri ini tidak sebanding dengan manusianya. Saya malah kebalikannya. Mencari pegawai susah sekaleeeee!
Gak hanya teman yang coba membantu. Alam juga mendengar rupanya :D Tiba-tiba kerabat jauh menawarkan anaknya untuk jadi pegawai. Gayung bersambut. Saya cocok dengan pegawai saya. Begitupun dia. Ahmad namanya.
Kehadiran Ahmad sangat membantu pekerjaan saya. Keasaman urat-urat saya berkurang. He..he..he.. Namun Ahmad yang ditemani istri dan seorang anaknya ini hanya bertahan enam hari. ENAM HARI! Oh tidak! Istrinya tidak betah, Ahmad mengantar istrinya pulang, dan mereka pun tidak pernah kembali lagi.
Nasib...
Sekarang kembali ke pencarian. Konon lapangan kerja di negeri ini tidak sebanding dengan manusianya. Saya malah kebalikannya. Mencari pegawai susah sekaleeeee!
Langganan:
Komentar (Atom)
