Tampilkan postingan dengan label frozen lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label frozen lele. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Juli 2014

Pengumuman: Tidak Ada Lagi Filet Ikan Eazy Freezy, Adanya...

Halow.

Terhitung tanggal 17 Juli 2014, kami tidak lagi memakai nama Eazy Freezy. Setelah Lebaran 1435 H (2014) akan kami umumkan nama barunya.

Terima kasih.

Selasa, 10 Juni 2014

Jadi Reseller Filet Ikan Eazy Freezy


Eazy Freezy mengundang teman-teman sekalian jadi Reseller. Ketentuannya saya kirim via email biasanya. Ada 17 poin  Banyak amat? Gak juga, isinya ada alamat, no rekening dan detail harga segala soalnya. Dijelaskan perpoin gitu deh jadi berasa banyak. 

Intinya ada pembelian minimum. Yaitu 500.000. Kalau di Bandung, Reseller mengikuti harga jual yang sudah kami buat, reseller tetap mendapatkan margin keuntungan kok. Harga dibuat sama supaya tidak terjadi perang harga. 


Kami juga menyarankan Reseller untuk menyiapkan storage. Supaya ikan-ikannya tetap dalam kondisi yang baik. 

Untuk Reseller yang di luar kota Bandung, kenaikan harganya disesuaikan dengan ongkos kirim saja. Berhubung kami belum mampu menyediakan jasa kirim sendiri sehingga mengandalkan kurir publik, jadi ya ongkos kirimnya memang gak murah. 

Keuntungan jadi Reseller filet ikan Eazy Freezy ya sama saja dengan produk lain: menambah pendapatan. Belum ada yang jual filet ikan lele. Filet ikan gurame dan dory, meski belum banyak, ya ada saja. Tapi filet ikan lele, belum ada selain kami  

Mau coba gak jadi Reseller filet ikan Eazy Freezy?  Reseller kami sekarang ada di beberapa kota. Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, dan Depok. 

Detail info Reseller di masing-masing tersebut ini nih:

1. Jakarta ada Nana. 0896.2285.0023

2. Tanggerang Selatan, ada Abrilianty. 0812.8613.0882

3. Di Cikarang-Bekasi ada Desi Verany. BBM 74D5E128

4. Bogor, ada di Saung Kabayan atau cek di webnyahttp://balongkabayan.com/, bisa juga kontak 0812.111.2135.

5. Dian di Depok. 0821.2774.1980

6. Di Bandung ada Indah di BBM 29379D4E, ada juga Puspa 21FDA893

Pada intinya siapa aja bisa ngejualin. Walo di kota-kota yang saya sebutin diatas udah ada resellernya, masih bisa dan boleh saja kalau mau daftar jadi reseller. Ada 250juta penduduk Indonesia gitu loh, tren kembali ke pangan lokal sedang seksi-seksinya. 

Kesempatan masih banyak sekali. Karena apa? karena baru kami yang jual filet ikan lele dan ikan lele adalah sumber protein hewani lokal yang kandungan gizinya bisa bersaing dengan si salmon dan tuna, harga lebih murah. Apa coba yang gak lebih baik dari gizi yang baik dan harga yang ramah?

Minggu, 01 Juni 2014

Kemasan Filet Ikan Eazy Freezy Gak Pake Styrofoam Lagi!

Dear semuanya. 

Yang pernah beli produk kami pasti tahu kalau ada wadah styrofoam disitu. Beberapa orang pernah protes, "gak usah pake styrofoam dong." Cita-cita kami juga pengen banget menanggalkan si wadah putih busa tesebut. 

Setelah dipelajari (halah :D) dan percobaan sendiri, kami putuskan untuk tidak menggunakan wadah styrofoam ini lagi. Masih sih sebenernya, tapi dipake ulang (pake-cuci-keringin) selama proses pembekuan saja. Tujuannya untuk membentuk posisi si filet ikan biar ajeg.


Beberapa kemasan yang belum terjual masih ada yang berstyrofoam, tapi mulai kemarin saat produksi, kami sudah bebas styrofoam 

Ditunggu pesanannya ya. Seneng banget nih kami kalo hp tingtong tingtong seharian trus pas dibaca ternyata isinya pesenan ikan semua 

Ikannya lokal, menyehatkan, harganya masih terjangkau, efek penjualannya bisa langsung kena ke petani ikan. Sejahtera buat kita semua. Amin.

Jumat, 30 Mei 2014

Jadi Reseller Filet Ikan Lele, Gurame, Dory a.k.a Eazy Freezy

Gak dikit nih yang nanya-nanya syarat jadi Reseller produk kami. Bagi yang berminat, silakan taro nama emailnya di bagian komen. Ntar saya kirimin file Ketentuan Reseller-nya via email. 

Syarat utamanya sih punya freezer atau kulkas dua pintu, karena saya udah itung berdasarkan muatan si freezer kulkas dua pintunya. 

Jual Filet Ikan Lele, Emang Ada?

Mhuahahahahahaha. Kenalin, saya yang jualnya :D

Menjual filet ikan lele. Prosesnya setelah difilet, saya cuci sampai bersih pake cara mencuci yang mertua saya ajarin. Kalau sudah beres dibekukan. Ntar kalau sudha agak beku, prosesnya dilanjut dengan pengemasan. Vakum dulu, baru dibungkus menggunakan kemasan luarnya.

Detail harga filet ikan lele:

250 gr  = 17.000
500 gr = 31.000
1 kg = 60.000

Pengiriman ke seantero kota Bandung 10.000 ongkosnya. Kalau ke luar kota selain Jabodetabek masih saya usahain pake ekspedisi apa. Selama ini sih pake travel kayak Cipaganti dan Baraya euy.

Kontak saya:
BBM 7CBDAA49
WA 0812.2005.4556
Email di filet.ikan@gmail.com


Selasa, 31 Desember 2013

Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik Di Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (2)



Kunci ikan murah adalah: pakannya, alias makanan yang dimakan sama si ikannya.

Apa sih kandungan bahan utama dari pakan ikan? Vietnam bisa bikin pakan ikan murah jangan-jangan karena bahannya seadanya sembarangan ya? 

Heuh Ya gaklah. Bahan utama pakan ikan adalah: Tepung Ikan. Jeruk makan jeruk, ya? Tetap aja si ikan butuh pasokan lain selain tepung ikan. Bahan tambahan lainnya bisa macam-macam, umumnya yang mengandung karbohidrat untuk nambah bobot. Nah, setelah kita ketemu sama kunci pertama untuk memproduksi ikan murah, yaitu pakan ikan, kita sekarang ketemu sama kunci keduanya.

Tepung ikan.

Hmmhh memang berlapis-lapis ini kuncinya. Apan saya udah sebutin di judulnya, konfliknya banyak :D

Di bumi ini negara yg memproduksi tepung ikan adalah Peru, Brazil, juga Amerika (cek lagi di internet, taglinenya impor tepung ikan). Termasuk Vietnam. Dia sanggup menciptakan produk yang bahan-bahannya mereka bikin sendiri dari hulu ke hilir. Alhasil terciptalah harga produk yang murah. Tidak ada tepung ikan yang diimpor, tidak ada pabrik luar negeri yang ikutan nimbrung jualan di Vietnam. 

Pendek kata, ini yang terjadi di negara bodoh yang sangat aku bela -ngutip Otong Koil-, Indonesia Raya, ini:

1. Pakan ikan lele sekilo doang harganya 9ribu. Sementara buat sehari, pakan yang dibutuhkan rata-rata 5% dari berat total. Minimal sekarung pakan habis sehari. Sekarung tau gak berapa duit? 250ribu. Kalikan 30 hari. Modar sampeyan. Sehari buat di balong lele-lele ini, saya mesti habiskan 1 karung! Bah... pusing kepala. Hehehe :D 

2. Bahan utama dari pakan ikan adalah tepung ikan. Negara yang kita cinta ini mengimpor tepung ikan dari negara tetangga. Akibatnya apa? ditambah pajak, bea cukai, dicampur bahan lain = mahal gila. Negara ini kurang laut kayak gimana. Pejabat negara gak kepikiran untuk mendorong industri tepung ikan, padahal laut kita super duper luas, masa gak ada ikannya. 

3. Mantan menteri perikanan dan kelautan bernama Fadel Muhammad mencetuskan program membuat bahan pengganti tepung ikan, dibuatnya pun disini di Indonesia. Petani ikan senang menyambut program ini. Entah kenapa sejak ide ini meluncur dari mulutnya, beliau dicopot dari kedudukannya sebagai menteri, pabrik pakan impor selamat dari kerugian, petani kembali bergulat dengan kemiskinan. 

4. Tahun 2013, pemerintah mengizinkan pabrik pakan Thailand membangun LIMA pabrik pakannya di Indonesia. Nama pabriknya Charoen Pokphand: Lampung, Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan Sulawesi. Di tahun 2011 aja ini pabrik dapet profit 2 - 3 triliun dari penjualan pakan di Indonesia. Dibawa kemana duitnya? Thailand lah, masa Temanggung. Terus apa kabar petani ikan kita? 

5. Petani melihara ikan sampe gede, biar gede dikasih makan yang bagus-bagus. Makannya pake pakan/pelet. Pakannya buatan pabrik: mahal. Petani panen ikan dijual ke bandar: murah. Bandar ngejual ke tangan ketiga, yaitu: penjual pasar atau supermarket: mahal. Siapa yang untung? Pabrik pakan dan bandar ikan. Siapa yang sehat? kamu yang makan ikannya. Siapa yang kismin? petani ikannya. 

Pada akhirnya kita ketemu sama Kapitalis-kapitalis yang kesana-kesini pake pesawat jet. Tau gak artinya kapitalis apa? menghasilkan uang di setiap celah yang ada dan ambil untung segede-gedenya, bener-bener seguede-guedenya. 

Terus kita berjumpa dengan Globalisasi. Tau gak globalisasi artinya apa? Ngirim barang atau orang lintas negara peduli amat akibatnya. Contoh kasusnya ya ngirim ikan lele dari Vietnam ke Amerika, ngirim ikan lele dari Vietnam ke Indonesia. Yang penting mah kirim-kirim weh. Masa bodo efeknya.

Pusing gak? Moga-moga gak ya. Tapi seenggaknya sekarang udah pada tau konflik dalam (kebanyakan) satu lauk yang kamu sikat habis ya begitu. 

Walau iklannya jelek, tapi Om Maspion bener. Dia selalu bilang: cintailah ploduk-ploduk indonesiaaa…

Semakin kamu banyak mengkonsumsi barang buatan Indonesia, semakin banyak petani yang tersenyum karena hasil panennya laku. Tidak ada jejak karbon yang bikin bumi sakit, harga bisa adil dan merata, dan tidak ada hasil panen yang terbuang. Petani bisa nambah penghasilan, bisa nabung, bisa nyekolahin anak, bisa naik haji, bisa jalan-jalan menyusuri pantai dari ujung timur sampai barat Indonesia *eh yang terakhir ini mah kepengen saya hohoho*



Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan.  Tulisan pertamanya ada disini.

Senin, 30 Desember 2013

Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik dari Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (Bagian I)



Beberapa hari kemarin, saya ketemu temen yang mengajak buat kerjasama. Ada restoran besar di Jakarta yang butuh salah satu produk Eazy Freezy dan kayaknya kami ditawarin jadi suppliernya. Ckckck, masa depan naik tingkat menanti hadapan mata. Tapi saya keburu geer, sih. hehehe. 

Pas ngobrol, ketahuanlah berapa patokan harga dasar dari suplier ikan yang lain. Kami semua dari geng Eazy Freezy, komennya sama: gelo murah pisan euy! Aslinya, murah, bahkan penjual ikan di Pasar Ciroyom Bandung pun gak bisa kasih harga segitu. Petani ikan bisa mencekik lehernya masing-masing kalau tahu ikan dihargai segitu murahnya. Tau gak darimana suplier ikannya? yes, VIETNAM.

Vietnam melulu. Saya mau naek tingkat ke level lebih tinggi kepentoknya sama Vietnam. Aahhh! Kemarin Cina, sekarang Vietnam, besok apa? Sesekali dijegal Kebumen atau Tasikmalaya kek gitu… 

Vietnam menancapkan kakinya kuat-kuat di industri perikanan dunia beberapa tahun belakangan ini. Lebih spesifiknya lagi ikan air tawar: ikan lele dan ikan dori. Industri perikanan di Amerika udah kesetrika sama Vietnam. Banyak pabrik yang gulung tikar karena Vietnam punya produk yang lebih murah.  

Saya sampe bertanya-tanya di google. Apa sih yang bikin produk olahan Vietnam murah? Berdasarkan pengalaman dan setelah mata saya keriting baca literatur sana-sini, kuncinya ada dalam satu kalimat berikut ini : Hulu ke hilir, semua dikerjain. Jadi tidak banyak konflik yang campur aduk didalamnya selain kepentingan pemilik yang mau untung besar. Pendek kata, kunci harga ikan murah itu ada di : pakan ikan. 

Vietnam gak hanya ngefilet ikan sekelas pabrik. Mereka juga memelihara ikannya. Ini adalah proses 'tengah-tengah' antara si hulu dan si hilir. Mereka kasih makan ikannya menggunakan makanan yang mereka bikin sendiri. Hulunya adalah makanan ikan (pakan ikan). Hilirnya adalah produk yang kalian nikmati dari meja makan. 

FYI, pakan ikan itu MUAHALnya luar biasa. Najis gila deh pokoknya -atau kaminya yang melarat aja yak :D - Satu karung pakan ikan lele yang saya beli harganya 270ribu dengan berat 30kg. Sekarung pakan cuma cukup buat sehari-dua hari kalau kelasnya udah peternakan kayak kami. Mahal ya. 

Bikin sendiri dong pakannya! Mewek melulu nih petani ikan!
Well, sudah. Setelah percobaan yang ke 15 dan bolak-balik menghabiskan duit di LIPI untuk cek kadar protein, karbohidrat, dan sejenisnya, kami punya pakan sendiri. Sayang masih 'maju kena mundur kena'. Pengerjaan pakannya masih manual sementara ikan lele rampusnya luar biasa eh tenaga kami buat giling-giling pakan udah binasa :D

Vietnam juga memproduksi sendiri pakan ikannya. Pake peralatan canggih-canggih, buruhnya dibayar murah :P Mereka gak ambil dari pabrik pakan yang udah bonafid dari negara manapun. Karena mereka ngerjain sendiri, tidak ada ongkos kirim, bea cukai, pajak, dan segala macamnya itu. Pakan murah, dijualnya pun bisa lebih murah. 

Pakan ikan yang ada di Indonesia kebanyakan buatan luar negeri. Terutama buatan Thailand. Termasuk yang saya suka beli. Pakan lokal juga ada dan produknya lakunya. Cuma sayang distribusinya gak banyak. Pakan lokal di Surabaya baru bisa menjangkau daerah sekitarnya. Di Bogor juga ada. Cuma tetep aja distribusi, promosi, masih kalah jauh dengan pakan buatan Thailand. Buat harga pakan lokal memang lebih murah 1.000 - 2.000. Cuma (lagi-lagi) banyak batasan pembelian minimal yang memberatkan petani ikan kayak kami ini. 

Kondisi tersebut berkebalikan dengan kita di Indonesia. Pemerintah membuka keran lebar-lebar hingga negara lain bisa sederas-derasnya menjual produknya disini. Termasuk pakan ikan. Sementara pakan lokal tidak diperhatikan dan tidak didukung. 

Sudah biasa kan mendengar nasib petani kismin-kismin melulu? karena akar dari semua jenis usaha peternakan yaitu pakannya mahal. Mau dijual pun jatohnya lebih mahal dibanding buatan Vietnam atau India. 

Sebentar... ambil napas dulu. Eungap hehehe :)



Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan kedua ada disini

Minggu, 24 November 2013

Made In Indonesia, Not China


Dua minggu lalu temen saya pulang kampung. Kami ketemuan & dia bawain saya oleh-oleh. Ada satu paket gelas yang dia beli dari Ikea. Saya seneng dibeliin barang dari Ikea walo cuma gelas plastik warna-warni doang. Gelas model begini sebenarnya bisa dibeli di Pasar Ciparay juga. Tapi Ikea gitu loh, buatan para genius di Swedia :D 

Saya liat-liat gelasnya saking saya kampungannya. Dibolak-balik gelasnya, dipegang-pegang, dibauin, sampe saya baca lekat-lekat tulisan kecil di alas gelasnya. Di alas gelas tersebut tercantum tulisan: MADE IN VIETNAM.

Ha? bangga punya barang sekelas Ikea, kok malah dibuatnya sama orang-orang yang tinggalnya sepelemparan batu aja dari negeri Indonesia. Vietnam? Ini seperti sedang makan spageti carbonara tapi pas ditelen rasanya mirip Baso Ihsan.

Tapi batin saya juga ketawa miris, kenapa saya mesti ngalamin idung-kembang-kempis-hati -berdegup-kencang karena merk Ikea doang? Seolah-olah buatan Swedia itu replika buatannya Tuhan. Bah *noyor kepala sendiri* tapi asli desainnya lucu-lucu, bentuknya sempurna, harga terjangkau menurut standar orang disana. 

Stop stop, bukan tentang Ikea ini mah. Inti cerita yang mau disampaikan disini adalah Vietnam mulai mengejar China. Kita, Indonesia, yang punya segala kemiripan dengan mereka, ada dimana? 

Di Indonesia berceceran produk China. Bawang putih yang saya beli di pasar aja kiriman mereka karena harganya lebih murah. Terus gimana nasib petani lokal, petani bawang kita? 

Ikan-ikan Dory yang temen-temen liat di Supermarket itu, itu kiriman dari Vietnam. Vietnam bahkan berhasil membuat bangkrut banyak industri ikan lele di Amerika. Segitu hebatnya ya efek impor barang… iya. 

Ponsel yang kita pakai ini buatan negara mana? K-wave? Media sosial? pulpen? peniti? sisir? 

Selalu ada sih yang namanya "kesejahteraan orang lain adalah kemalangan orang lainnya lagi". Tapi bayangin kalo Indonesia memproduksi untuk dirinya sendiri. 300 juta orang total penduduknya, hei. Potensi segitu besar, pemerintah tutup mata. Tahu siapa yang memanfaatkan jumlah penduduk Indonesia sebanyak itu sekarang? China udah pasti, Vietnam mulai rajin bergerak, India mulai pasang iklan di Indonesia, Korea dan Malaysia rajin menyerang dengan pariwisata, dan terakhir adalah… yes, si Australia. Aha!

Pada sadar gak sih negara kita diserang dari berbagai sisi? sementara negara lain bersatu padu menjual barangnya ke negara kita, kita ngapain aja? Memang gak apa-apa sih produk Cina bertebaran di muka bumi Indonesia, tapi kalo sampai banyak industri lokal megap-megap karena produk luar negeri, berarti ada yang salah...

Gak bisa seratus persen pake produk lokal ya gak apa-apa, sih. Zaman globalisasi kayak begini harus jadi orang Baduy Dalam baru bebas dari segala macam produk-produk buatan luar negeri. HP yang saya pake juga buatan Korea. Shampo yang saya habiskan sebulan sekali bikin kaya orang-orang yahudi. Tapi saya coba juga mengimbangi itu dengan beli barang-barang lokal. Misalnya memakai serbuk lulur buatan orang-orang Jokjakarta atau Bali Ratih buatan muda-mudi Bali, kaos-kaos buatan anak-anak muda distro Bandung, berkunjung ke craft-party lokal kayak Tobucil Handmade, pakai kosmetik buatan lokal. Banyak lah. Berbagi peran intinya mah, kita pake produk cina karena kita ga bisa memproduksi barang tersebut, tapi kan ga berarti gak pake produk lokal sama sekali. 

Bahkan acara otomotif paling terkenal di dunia, Top Gear, edisi resesi eropa, si hostnya Jeremy Clarkson pernah bilang "Inggris harus kembali menjadi bangsa produksi kalau tidak mau kena resesi lagi".  Nah, mereka mulai menyadari itu dan kita masih santai-santai makan jeruk kiriman Cina :)) bloody idiot, kalau mengutip Clarkson. 

Ayo mulai pelan-pelan pilih produk lokal & dipakai untuk sehari-hari. Lalu dipromosikan ke keluarga, teman, tetangga, media sosial, semuanya. Ntar kita bisa bangga kalo produk yang kita pakai, makan, habisin tercantum begini: MADE IN INDONESIA, NOT CHINA.

Produk lokal mulai banyak bermunculan nih. Pada pakai smartphone kan? online terus kan? Mulai google produk-produk lokal yang kita inginkan. Mulai dari sayuran, produk kosmetik, pakaian, furnitur, jasa apalagi ya… ah ya! filet ikan! hehehe. Mengangkat nilai lokal juga saya jadiin misi Eazy Freezy. Kami petani ikan, jualin produk sendiri, bukan produk Cina, Vietnam, bahkan Australia. 

Daftar produknya begini:


(typo di desainnya mohon dimaafkan :D udah keburu cetak banyak euy)
Frozen Filet Ikan Lele
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu



Frozen Filet Golden Dory (Patin)
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu



Frozen Filet Gurame
250 gram - 25ribu
500 gram - 46ribu
1kilogram - 90ribu



Frozen Babyfish (anak-anaknya ikan Nila & ikan Mas)
150 gram - 12ribu
250 gram - 20ribu


Sementara segitu dulu. Yang mau jadi reseller juga silakan banget nih butuh banget *halow halow yang di Jakarta mau jadi reseller gak, banyak yang pengen beli nih tapi saya tolak melulu karena ongkos kirim*

Kontak kami ada di:
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com




Kamis, 07 November 2013

Bukan Lele Jamban II


Jaman kita kecil dulu di kampung, sungai adalah jamban besar milik bersama. Balong (kolam) merupakan jamban kecil milik pribadi. Jadi kalau perut mules ayo segera berlari menuju 'kubikel' dari rotan, tanpa atap, tanpa pintu yang permanen, habis itu jongkok, ngeden, dan selesaikan urusan sisanya. Huuff lega ya. Hahaha. 

Nah sekarang kita sambungin ke hewan berkumis delapan ini. Ikan Lele. Saya pernah makan ikan lele sebelum beredar kabar kalau ikan lele itu binatang yang suka ditaro orang di septic tank. Setelah saya tahu kalo lele hidup di tempat kayak gitu, saya tetep makan :D gak ngaruh hehehe. Dikibas-kibasin daging domba pun saya bakal tetep makan daging ikan lele. 

Gak bisa dipungkiri emang banyak yang menolak makan ikan lele karena kabar tersebut. Memang kabar tersebut gak salah. Tapi tidak sepenuhnya benar. Ikan mas juga ikan mujair/nila kalo dikasih benda yang keluar dari perut kita itu ya pada makanin juga. Jadi ikan lele gak sendirian. Tapi ikan mujair & ikan mas gak ditaro di septic tank. Selain ikan sapu, ikan lele punya ketangguhan luar biasa buat tetap hidup dalam lingkungan terkotor. 

Dengan reputasi ikan lele yang kayak begitu, agak aneh kalau kita bisa ketemu dengan fakta ini: penjual ikan di pasar Ciroyom itu bisa ngejual ikan lele EMPAT TON per…HARI. Laku banget!

Jadi sebenernya gak usah kuatir lele yang kita makan itu lele jamban atau lele got. Karena ikan lele konsumsi emang BUKAN berasal dari septic tank atau got sekalipun. Gak mungkin lah beternak lele dengan ngasih makannya berupa benda yang ada di perut kita ini. 

Kalo kamu peternak lele, kamu harus panen lele dalam waktu 3 bulan. Buat ngejer 3 bulan itu kuncinya ada pada sesuatu yang banyak bikin peternak lele gulung tikar: PAKAN. Lelenya harus dikasih makanan yang bagus-bagus, terutama protein karena ikan lele butuh protein tinggi untuk perkembangan tubuhnya. Jadi gak masuk akal kalau benda di septic tank itu kami cekokin ke ikan lele. Selain gak barokah dan melanggar hati nurani, di hitungan kami para peternak, benda tersebut gak akan bikin bobot ikan lele naik sesuai yang kami mau. 

Ikan lele adalah karnivor omnivor. Tapi kita juga gak bisa kasih makan sembarangan. Namanya ternakin ikan lele ya harus dibagus-bagusin biar bisa ngasih profit juga benefit. Kalau di dunia peternakan ada prinsip yang namanya CBIB, Cara Budidaya Ikan Baik. Belakangan ada juga bubidaya ikan lele organik, dikasih makannya Azola doang, semacam tumbuhan gitu. 

Jadi jangan ragu ya makan ikan lele. Terutama ikan lele produksi kami. Harus kami akui terkadang stok ikan lele yang kami punya di peternakan habis. Kalau habis, ya kami kontak sesama peternak lain buat minta bantuan. Mereka pada seneng sih. Soalnya bandar-bandar ikan sebagai tangan kedua di proses dagang mah sukanya pada ambil untung gak masuk akal, sementara kami sesama peternak bisa fair bagi hasil ;)

Lucu juga ya, apa yang orang bayangkan terburuk tentang suatu hal, it turns out to the one of the best. Ini bikin saya keingetan sama The Hunchback of Notre Dame :D hehehehe. Ikan lele dianggap makanan kelas kampung, kelas jamban, rupanya jelek pula.  Tapi ternyata kalau diurusnya bener dan kita mau kenal ikan lele lebih baik sebaik Esmeralda pacarnya The Hunchback, kandungan dalam tubuhnya bisa memberi manfaat besar buat kita-kita, terutama batita, balita, dan anak-anak yang dalam masa pertumbuhan. 

Buah jeruk buah delima. 
Bentuk buruk jangan dihina. 

Ditunggu ya pesenannya. Sekarang jadwal pengirimannya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Harga masih sama, sekarang udah ada ongkos kirim. Dekat dengan pos pengiriman 5ribu, jauh dari pos 10ribu. 

Ini daftar produknya Eazy Freezy:

(typo di desainnya mohon dimaafkan :D udah keburu cetak banyak euy)
(typo di desainnya mohon dimaafkan :D udah keburu cetak banyak euy)
Frozen Filet Ikan Lele
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu


Frozen Filet Golden Dory (Patin)
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu



Frozen Filet Gurame
250 gram - 25ribu
500 gram - 46ribu
1kilogram - 90ribu



Frozen Babyfish (anak-anaknya ikan Nila & ikan Mas)
150 gram - 12ribu
250 gram - 20ribu


Sementara segitu dulu. Yang mau jadi reseller juga silakan *halow halow yang di Jakarta mau jadi reseller gak, banyak yang pengen beli nih tapi saya tolak melulu karena ongkos kirim*

Kontak kami ada di:
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com



PS: Hunchback of The Notre Dame adalah karya Victor Hugo. Disini gak ada maksud menyamakan ikan lele dengan karya agungnya Victor Hugo, cuma membandingkan rupa aja. 

Sabtu, 19 Oktober 2013

Upami Bersih Pasti Raos*

Anak saya laki-laki. Mungkin 30 tahun lagi atau kurang dan bisa lebih dari itu, saya bakal jadi ibu mertuanya seseorang yang beruntung dapetin anak saya. Jadi kepada calon menantu saya, ini yang mau saya bilang:

Saya gak jago masak. 

Saya masak cuma buat suami & anak. Lebih dari kebutuhan itu, tidak. Jadi saya jarang ngabisin waktu di dapur. Kalo lagi mood baru deh buatin masakan buat yang lain atau emang pas sekalian saya lagi masak buat gele (suami) dan nabil (anak), sih. Alhamdulillah suami sering bilang masakan saya enak walo saya tahu rasanya keasinan atau kebanyakan bawang. Teu baleg emang abdi teh. 

Tapi percayalah, waktu memutuskan nikah sama dia, beberapa hal yang saya ajuin ke dia dan dia harus terima adalah: i dont cook. Ya belajar atuh, kata dia. Saya manyun. Saya minta waktu buat mikir. Saya cinta gele. Jadi solusinya saya belajar masak pelan-pelan. bener-bener p e l a n - p e l a  a  a  a n. Sekarang mah bisa lah bikin sayur kacang, bistik, sayur lodeh, perkedel, oseng-osengan. Horeeee!

Ada satu orang yang harus saya cium tangannya sebagai tanda terima kasih: ibu mertua. Beliau sudah almarhum. Beliau yang ngajarin masak. Ibu saya juga ngajarin saya masak via sms, ngirim resep-resep. Di prakteknya, saya lebih sering masak sama ibu mertua saya.

Jadi anak dari ibu saya artinya makan enak terus. Jadi menantu dari (almarhumah) ibu mertua saya artinya makan enak-enak-enak terus plus bonus bisa masak walaupun belajarnya penuh drama :D Sebelum kenal dengan ibunya gele, yang saya tahu ibu saya itu perempuan paling jago masak sedunia. Ketika saya melahap masakan ibu mertua, wah saya pikir ini posisi ibu saya bakal turun ke nomor dua euy.  

Rasa masakan yang enak biasanya berhubungan dengan kebersihan dan ketulusan kokinya. Mengutip kalimatnya ibu mertua saya. "mun bersih mah pasti raos, neng ulu. Mun resep masakna oge nya pasti raos, sih", gitu katanya. Bener banget ternyata. Ibu-ibu saya, keduanya bukan cuma seneng masak, tapi juga selalu memperhatikan kebersihan dapur dan bahan makanan kalau masak. Ibu mertua lebih apik dari ibu sendiri malah dalam segala hal. Hihihi :D bukan berarti ibu saya gak bagus. Saya sih percaya kebaikan ibu saya kalau ditambah kebaikan ibu mertua jadinya apa. Malaikat. 

Keapikan ibu mertua ada yang beliau tularkan ke saya. Kayak nyuci bahan makanan itu tadi. Nyuci daging ayam, sapi, dan ikan yang baik itu saya tahunya dari ibu mertua saya. Makanya waktu ngurusin ikan lele dari kotor sampai siap buat dimasak saya tahu caranya. Ada tiga tahap pencucian. Satu, silakan main ke rumah saya. Dua, atau beli aja 250 gram, 500 gram, atau 1 kg lele filet frozennya. Tiga, lele hasil ngurus saya mah udah bersih lah tinggal dimasak aja jangan ngerepotin diri sendiri kan udah bayar. Hihihi :D Mungkin yang pernah beli frozen filet lele saya bisa ngasih testimoni disini, gimana teteh-teteh, bersih gak lelenya? 

Jadi, kamu wahai calon menantu saya, apa kamu tahu cara ngurus daging ayam dan ikan lele? Hahaha. Nanti saya ajarin :P

Dibeli ya Lele yang udah difilet ini nih:
Yang 250 gram 17ribu. 
Yang setengah kilo 31ribu. 
Yang satu kilo 60ribu



Sebagai kejutan *naon sih* saya juga punya ikan golden dory alias patin :D huehehehe. Ya namanya juga jualan, kalo ada yang gak beli filetan ikan lele, siapa tau suka filetan ikan patin. Maklum petani lele, banyak rekanan sesama petani lokal nih, jadi saling membantu ceritanya mah. Siapa lagi soalnya. Hehehe. 


Okeydokey. Sampai ketemu di depan pintu rumah masing-masing dimana saya, atau indra yudha, dan mamang khena mengantarkan pesanan frozen filet lele dan patinnya. Cash on delivery, bayar pas nerima barangnya. 

WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com

Yang mau jadi reseller sudah pasti ada harga khusus, tentu dengan minimal pembelian ya. 



*judul dalam bahasa sunda, artinya kalau udah bersih ya pasti rasanya enak.

Rabu, 16 Oktober 2013

Rome Was Not Built In A Day

Kedai Lele udah setahun euy umurnya. Alhamdulillah. Dulu waktu baru mulai usaha ini pernah ada yang bilang ke saya, bisnis kuliner -khususnya restoran/warung makan- itu bakal cuapek buanget. Saya menanggapinya dengan "ya..ya..ya pasti capek ya..ya..ya...". 


Beuh aslinya... ternyata.. eh gak disangka... waktu baru sebulan menjalani Kedai Lele, rasanya mau berhenti aja. Gak nyangka secapek itu. Hehehe. Terkadang kalau lagi jam rame, susah makan, gak bisa duduk, stres karena masaknya ditungguin konsumen. Mana di Kedai Lele di deket kampus Telkom University itu segala proses masak & menyajikannya di depan konsumen. Bener-bener tekanan tinggi. Jadi sedikit2 mah tau kerjaan chef kayak gimana. 

Bener kata Gordon Ramsay," When you're a chef, you graze. You never get a chance to sit down and eat". Angkat topi buat yang profesinya Chef. Sejuta jempol yang kerjanya di dapur terus-terusan. 

Di Kedai Lele, saya belajar benar-benar dari dasarnya, yaitu ngepel, cuci piring, menyapu, ngelap, memasak, menyikat wc, dan masih banyak lagi yang sifatnya menguras fisik. Setelah itu saya beranjak ke level berikutnya: administrasi dan mengurus sumber daya manusia. Beres dengan perintilan teknis, saya pun berhadapan dengan bisnis yang sebenar-benarnya: apa yang harus saya lakukan agar produk saya laku di pasaran?


Kepengennya bayar yang jago marketing buat bantu saya biar dagangan laku. Tapi secara finansial belum sanggup. Jadilah saya bagi-bagi tugas sama kru yang ada aja.

Pengalaman saya dalam berwirausaha memang belum banyak. Kedai saya masih kecil. Setahun belum jadi apa-apa, belum jadi siapa-siapa. Tapi sudah satu tahun bertahan, itu juga tidak mudah. Setahun dan i still want to have thousand more years ahead, yes. 

Kota Roma aja gak beres dibangun dalam sehari, apalagi Kedai Lele. 

Kedai Lele jalan terus, malah kepengen mah buka cabang dimana-mana. Sambil mewujudkan itu, saya mau keluarin menu baru di bulan ini. Dua menu baru yang bahan utamanya daging ikan lele. 

Bukan cuma itu aja, sih. Ehem, siap-siap nih, mau promosi :))

Saya juga lebarin sayap ke produk yang lain tapi sejenis. Bukan berarti tidak fokus di Kedai Lele. Ya ibaratnya Steve Jobs ngeluarin Macbook terus dia juga bikin Ipod. Lah saya juga bikin Kedai Lele, terus bikin Eazy Freezy. 



Postingan lalu saya pernah posting panjang, ngiklan disini jualin Lele Fillet Frozen. Cuma waktu itu belum ada mereknya. Baru dapat nih hari jumat kemarin Launching produknya pun minggu depan, nunggu kemasan dicetak dulu. hehehe. Jadi yah belum bisa menyertakan foto dulu disini.

Lele Fillet Frozen dibawah bendera Eazy Freezy ini tersedia ukuran 250 gram (17ribu), 500 gram (31ribu) dan 1 kg (60ribu). Kalau mau jadi reseller, ada harga khusus reseller juga nih.

Call me call me kalau mau beli lele filet frozennya ya. Komen disini. Email juga bisa. Cuma ya itu, masih buat yang domisili Bandung euy. Beli minimal yang 500 gram, dianter sampai rumah, ongkos kirim gratis dulu, bayar pas barang udah nyampe. 

Siplaaa :)

Kontak:
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com


Selasa, 08 Oktober 2013

Keep Me Cool, Keep Me Frozen


Kalau belanja ikan, saya sukanya ke pasar. Sejak menikah, belanja buat masak di rumah, saya gak pernah belanja di supermarket. Di pasar lebih menyenangkan karena harganya lebih murah. Lagipula, gak ada supermarket di Ciparay.

Ikan yang suka kami makan adalah ikan-ikan lokal kayak mas, nila, lele dan kembung. Buat anak, seringnya saya suapin daging ikan lele sama ikan kembung. Tapi ikan kembung buat anak mulai berhenti karena ikan laut, takut kandungan merkurinya dan bahan pengawetnya gak tau apa. Kalau buat diri sendiri mah masih jalan terus.

Nah kalau salmon yang populer di kalangan ibu-ibu muda, justru belum pernah saya beli. Belum satu kalipun saya cekokin ikan salmon ke anak saya. Kata ibu-ibu kebanyakan, ikan salmon bagus. Gizinya mantap. Bener juga. Tapi gimana ya… harganya eeur.. m a h a l .

Terus karena pengen tahu aja, saya browsing. Sebagus itu ya ikan salmon?

Twewew. Gak juga ah. Kita punya ikan lokal yang setara gizinya dengan Salmon. Harganya lebih terjangkau. Buat dapetinnya juga lebih mudah, bisa lebih segar pula karena jarak pengiriman yang lebih dekat. Ikan apa itu? Lah udah saya sempet sebutin tadi diatas:

Ikan Lele.

Ah pasti udah pada mikir ini saya mau promosi. Nih saya kasitau: emang . Hehehe. Disamping berKedaiLele, ada satu usaha lagi yang lagi saya & suami kembangin bersama seorang teman sesama petani juga. Jenis usaha ini gak jauh dari ikan lele juga. Pengembangan usaha, nah itu dia namanya.

Lele Fillet Frozen. Yup, lele beku tanpa duri tanpa tulang. Ini yang mau kami jual. Apa bakal laku? Belum tau. Saya berpegang ke kata-kata nya opa saya aja, Steve Jobs: How does somebody know what they want if they haven’t even seen it? Nah, ini saya sediain Lele frozennya, filet pula :D

Kami cuma ngeliat bahwa ada peluang disini. Setelah keliling keluar masuk supermarket di Bandung utara sampai Bandung selatan, kami lihat belum ada satu pun yang menjual Lele Fillet Frozen. Kalau ikan-ikan lain (terutama yang ikan impor) malah banyak banget: tuna dan ya si salmon, misalnya.

Kalau banyak ibu-ibu, chef-chef, atau siapapun yang suka masak ikan-ikan fillet impor, kenapa gak mulai beralih ke ikan (filet beku) lokal? Ada lele dan patin. Harga lebih murah, tidak ada jejak karbon yang tinggi, dan bisa saling mensejahterakan. Ditambah kadar nutrisinya juga gak jauh beda. Nah kalau lele fillet beku punya saya lebih sehat, tanpa bahan pengawet, malah.

Jalur ikan lele jadi beku yang saya produksi cuma gini aja:
Piara lele sampe guede segede betis orang setinggi 160 cm berat 80 kg - putusin kepala ikan lelenya - fillet badannya - cuci - cuci - cuci sampe bersih - masukin kemasan - masukin freezer.

Buat Ibu-ibu yang mau beli lele fillet frozen punya saya, tersedia berat yang 250 gr (17ribu), 500 gr (31ribu), dan 1 kg (60ribu). Lele fillet frozen punya saya tinggal di defrost, dibumbuin, goreng/panggang, dimakan. Kalau mau dicuci lagi juga bisa, tapi da udah saya cuci sampe bersih-sebersih-bersihnya sebelum masuk kemasan.


Kalau tertarik mau beli lele filet frozen saya mangga komen disini, tinggal pilih mau lele dengan berat berapa, berapa bungkus, dan sebutin mau diantar kemana ntar saya anterin. Ada minimal pembelian, yaitu 500 gr seharga 31ribu. 

Detil harganya:

Filet Ikan Lele
250 gr  = 17.000
500 gr = 31.000
1 kg = 60.000

Filet Ikan Golden Dory (Patin)
250 gr  = 17.000
500 gr = 31.000
1 kg = 60.000

Filet Ikan Gurame
250 gr  = 25.000
500 gr = 46.000
1 kg = 90.000


Kontak saya :
filet.ikan@gmail.com
BBM di 7CDBAA49
WA 0812.2005.4556