Selasa, 31 Desember 2013

Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik Di Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (2)



Kunci ikan murah adalah: pakannya, alias makanan yang dimakan sama si ikannya.

Apa sih kandungan bahan utama dari pakan ikan? Vietnam bisa bikin pakan ikan murah jangan-jangan karena bahannya seadanya sembarangan ya? 

Heuh Ya gaklah. Bahan utama pakan ikan adalah: Tepung Ikan. Jeruk makan jeruk, ya? Tetap aja si ikan butuh pasokan lain selain tepung ikan. Bahan tambahan lainnya bisa macam-macam, umumnya yang mengandung karbohidrat untuk nambah bobot. Nah, setelah kita ketemu sama kunci pertama untuk memproduksi ikan murah, yaitu pakan ikan, kita sekarang ketemu sama kunci keduanya.

Tepung ikan.

Hmmhh memang berlapis-lapis ini kuncinya. Apan saya udah sebutin di judulnya, konfliknya banyak :D

Di bumi ini negara yg memproduksi tepung ikan adalah Peru, Brazil, juga Amerika (cek lagi di internet, taglinenya impor tepung ikan). Termasuk Vietnam. Dia sanggup menciptakan produk yang bahan-bahannya mereka bikin sendiri dari hulu ke hilir. Alhasil terciptalah harga produk yang murah. Tidak ada tepung ikan yang diimpor, tidak ada pabrik luar negeri yang ikutan nimbrung jualan di Vietnam. 

Pendek kata, ini yang terjadi di negara bodoh yang sangat aku bela -ngutip Otong Koil-, Indonesia Raya, ini:

1. Pakan ikan lele sekilo doang harganya 9ribu. Sementara buat sehari, pakan yang dibutuhkan rata-rata 5% dari berat total. Minimal sekarung pakan habis sehari. Sekarung tau gak berapa duit? 250ribu. Kalikan 30 hari. Modar sampeyan. Sehari buat di balong lele-lele ini, saya mesti habiskan 1 karung! Bah... pusing kepala. Hehehe :D 

2. Bahan utama dari pakan ikan adalah tepung ikan. Negara yang kita cinta ini mengimpor tepung ikan dari negara tetangga. Akibatnya apa? ditambah pajak, bea cukai, dicampur bahan lain = mahal gila. Negara ini kurang laut kayak gimana. Pejabat negara gak kepikiran untuk mendorong industri tepung ikan, padahal laut kita super duper luas, masa gak ada ikannya. 

3. Mantan menteri perikanan dan kelautan bernama Fadel Muhammad mencetuskan program membuat bahan pengganti tepung ikan, dibuatnya pun disini di Indonesia. Petani ikan senang menyambut program ini. Entah kenapa sejak ide ini meluncur dari mulutnya, beliau dicopot dari kedudukannya sebagai menteri, pabrik pakan impor selamat dari kerugian, petani kembali bergulat dengan kemiskinan. 

4. Tahun 2013, pemerintah mengizinkan pabrik pakan Thailand membangun LIMA pabrik pakannya di Indonesia. Nama pabriknya Charoen Pokphand: Lampung, Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan Sulawesi. Di tahun 2011 aja ini pabrik dapet profit 2 - 3 triliun dari penjualan pakan di Indonesia. Dibawa kemana duitnya? Thailand lah, masa Temanggung. Terus apa kabar petani ikan kita? 

5. Petani melihara ikan sampe gede, biar gede dikasih makan yang bagus-bagus. Makannya pake pakan/pelet. Pakannya buatan pabrik: mahal. Petani panen ikan dijual ke bandar: murah. Bandar ngejual ke tangan ketiga, yaitu: penjual pasar atau supermarket: mahal. Siapa yang untung? Pabrik pakan dan bandar ikan. Siapa yang sehat? kamu yang makan ikannya. Siapa yang kismin? petani ikannya. 

Pada akhirnya kita ketemu sama Kapitalis-kapitalis yang kesana-kesini pake pesawat jet. Tau gak artinya kapitalis apa? menghasilkan uang di setiap celah yang ada dan ambil untung segede-gedenya, bener-bener seguede-guedenya. 

Terus kita berjumpa dengan Globalisasi. Tau gak globalisasi artinya apa? Ngirim barang atau orang lintas negara peduli amat akibatnya. Contoh kasusnya ya ngirim ikan lele dari Vietnam ke Amerika, ngirim ikan lele dari Vietnam ke Indonesia. Yang penting mah kirim-kirim weh. Masa bodo efeknya.

Pusing gak? Moga-moga gak ya. Tapi seenggaknya sekarang udah pada tau konflik dalam (kebanyakan) satu lauk yang kamu sikat habis ya begitu. 

Walau iklannya jelek, tapi Om Maspion bener. Dia selalu bilang: cintailah ploduk-ploduk indonesiaaa…

Semakin kamu banyak mengkonsumsi barang buatan Indonesia, semakin banyak petani yang tersenyum karena hasil panennya laku. Tidak ada jejak karbon yang bikin bumi sakit, harga bisa adil dan merata, dan tidak ada hasil panen yang terbuang. Petani bisa nambah penghasilan, bisa nabung, bisa nyekolahin anak, bisa naik haji, bisa jalan-jalan menyusuri pantai dari ujung timur sampai barat Indonesia *eh yang terakhir ini mah kepengen saya hohoho*



Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan.  Tulisan pertamanya ada disini.

3 komentar:

  1. Ngomong-ngomong soal "lauk" saya juga ada cerita unik. Rekanan saya ngajak saya makan "iwak manuk" di sebuah rumah makan di Semarang. Saya pikir iwak itu ikan, basa sundana lauk, manuk itu burung. Bayangan saya iwak manuk itu ikan terbang. Saya sudah bersemangat ingin makan ikan terbang, ternyata eh ternyata iwak terbang itu adalah goreng burung puyuh. Halah.. geus leutik, euweuh dagingan deuih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. whahahahahahahhahh.......
      ari sugan si akang teh lauk hiber,.....
      eta gening kalah puyuh,...geus leutik eweuh dagingan ! coba mun entog mah nya kang ?!....
      hahahahahahha....

      Hapus