Halow.
Terhitung tanggal 17 Juli 2014, kami tidak lagi memakai nama Eazy Freezy. Setelah Lebaran 1435 H (2014) akan kami umumkan nama barunya.
Terima kasih.
Tampilkan postingan dengan label jadi pengusaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jadi pengusaha. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Juli 2014
Jumat, 13 Juni 2014
Filet Ikan Lele Mau Dibawa Kemana
Tahun 2011, pernah ada 30 orang berkumpul di rumah kami. Di tepi kolam ikan lele, ngobrolin tentang masa depan peternakan lele masing-masing, peluangnya, gimana bertahan, malah gimana cara memulai ternak lele karena beberapa ada yang newbie.
Tahun 2014. Tiga dari 30 orang itu yang bertahan. Salah satunya kami. Perjalanan sampai sekarang masih belum mulus sih. Bisa ada sampai sekarang udah bersyukur banget. Dari ternak lele, sampai bikin filet lele. masih kecil tapi mau dibawa menuju besar. a m i n.
Rivers know this: there is no hurry. We shall get there some day
- A.A. Milne, creator Winnie The Pooh.
Tahun 2014. Tiga dari 30 orang itu yang bertahan. Salah satunya kami. Perjalanan sampai sekarang masih belum mulus sih. Bisa ada sampai sekarang udah bersyukur banget. Dari ternak lele, sampai bikin filet lele. masih kecil tapi mau dibawa menuju besar. a m i n.
Rivers know this: there is no hurry. We shall get there some day
- A.A. Milne, creator Winnie The Pooh.
Selasa, 03 Juni 2014
Kerjain Aja Dulu
Banyak yang nanyain sama kami, gimana caranya memulai usaha, memulai bisnis. Lah pada nanyain ke kami, masih banyakan gagalnya nih daripada berhasilnya hahaha
Tapi intinya mah persis apa yang kata Nike bilang: Just Do It.
Lakukan aja. Pertimbangan yang masak, perencanaan yang baik tentu aja perlu. Tapi jangan kelamaan. Jangan merasa terbatas banyak hal. Kerjain aja. Berhasil atau gak ya mana kita tau kalau gak dicoba.
Terus kalau gagal gimana?
Pilihannya ada sama kita. Mau diterusin usahanya atau mau berhenti aja. Rugi dan untung, resikonya usaha. Pusing dan susah tidur karena stres ngurusin usaha, ya itu juga resikonya. Hehehe
Yang penting bisa lihat ke depan, selangkah dua langkah, kalau perlu sepuluh langkah di depan, mau ngapain.
Buat tahap mencapai langkah-langkah itu. Bikin langkah yang realistis. Gimana caranya? makanya kami bilang kerjain aja, soalnya banyak hal dalam bisnis yang hanya bisa kita pelajari kalau kita kerjain.
Teori gampang. Ngomong juga enteng. Tapi prakteknya, susah cuy :)) tapi tenang aja, kamu gak sendirian.
Inget-inget aja kata seseorang yang saya juga gak tau siapa dia . Gini katanya: If you feel like there's something out there that you're supposed to be doing, if you have a passion for it, then stop wishing and just do it.
Tapi intinya mah persis apa yang kata Nike bilang: Just Do It.
Lakukan aja. Pertimbangan yang masak, perencanaan yang baik tentu aja perlu. Tapi jangan kelamaan. Jangan merasa terbatas banyak hal. Kerjain aja. Berhasil atau gak ya mana kita tau kalau gak dicoba.
Terus kalau gagal gimana?
Pilihannya ada sama kita. Mau diterusin usahanya atau mau berhenti aja. Rugi dan untung, resikonya usaha. Pusing dan susah tidur karena stres ngurusin usaha, ya itu juga resikonya. Hehehe
Yang penting bisa lihat ke depan, selangkah dua langkah, kalau perlu sepuluh langkah di depan, mau ngapain.
Buat tahap mencapai langkah-langkah itu. Bikin langkah yang realistis. Gimana caranya? makanya kami bilang kerjain aja, soalnya banyak hal dalam bisnis yang hanya bisa kita pelajari kalau kita kerjain.
Teori gampang. Ngomong juga enteng. Tapi prakteknya, susah cuy :)) tapi tenang aja, kamu gak sendirian.
Inget-inget aja kata seseorang yang saya juga gak tau siapa dia . Gini katanya: If you feel like there's something out there that you're supposed to be doing, if you have a passion for it, then stop wishing and just do it.
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele
Senin, 02 Juni 2014
Jadi Bos dan Ongkang-ongkang Kaki?
Coba tanya, kenapa pada mau wirausaha? Gak dikit yang jawab "biar bisa santai, orang lain pada kerja, kita libur. asik cooy."
Biasanya yang menjawab kayak gitu ada dua macam orang: pertama mereka yang masih mimpi berwirausaha. Kedua, mereka yang berwirausaha dan udah punya duit milyaran dari usahanya itu.
Kalau baru merintis usaha, jangan harap bisa santai. Orang lain udah tidur, kamu masih bekerja. Orang lain bangun tidur, kamu masih bekerja, seenggaknya dalam mimpi kebawa sampe tidur loh kalo lagi mikirin pekerjaan. Hahaha. *curhat*
Sedikit waktu buat tidur, lebih banyak waktu untuk bekerja. Itu yang terjadi saat masih merentang jalan menuju kesuksesan (baca: minimal buat balik modal).
Oya, satu lagi. Membuat bisnis sendiri biasanya dimulai dengan melakukan semuanya sendirian. Itu yang terjadi pada kami. Bisa jadi ada yang udah mulai menggaji pegawai. Itu sih antara modalnya udah banyak, berani minjem duit lebih, atau emang bisnisnya mau gak mau dimulai dengan ada pegawai.
Dalam membangun bisnis, ada satu hal penting yang kudu kita ciptakan: sistem. Nah sistem inilah yang menentukan apakah kamu bakalan bisa punya waktu lebih banyak untuk santai atau tecekik bisnis sendiri. Sistem itu misalnya jalur kerja, jalur komunikasi, sistem kepegawaian, SOP pekerjaan, dan sebagainya dan seterusnya.
Bagaimanapun kita bakal tetap ketemu dengan orang-orang yang bakal bilang "enak kamu mah jadi bos bisa santai-santai". Duh kalau ada yang denger ngomong begini, pengen deh rasanya bertukar tempat.
Iya kami bisa santai, tapi banyak di waktu tertentu kami koprat-keprot mengurus pegawai yang kabur membawa uang, mengejar konsumen yang minta pesanan diantar di hari yang sama saat stok sedang habis, minta maaf dihadapan konsumen yang marah, mesin rusak duit habis, bayar gaji pegawai untung cekak, kontrol kualitas produk, karyawan nambah gaji bengkak, dan lain dan lain.
Menjadi wirausaha, resikonya lebih besar. Amanahnya lebih banyak. Komitmen harus teguh dan kuat.
Bersantai? bukan gak bisa, kami lebih suka menyebutnya fleksibel alias bisa diatur, lihat prioritas pekerjaan dulu.
Jadi bos dan ongkang-ongkang kaki? hehehe sebelum ngomong ongkang-ongkang kaki, coba dulu rintis usahamu sendiri, baru kamu tahu
Biasanya yang menjawab kayak gitu ada dua macam orang: pertama mereka yang masih mimpi berwirausaha. Kedua, mereka yang berwirausaha dan udah punya duit milyaran dari usahanya itu.
Kalau baru merintis usaha, jangan harap bisa santai. Orang lain udah tidur, kamu masih bekerja. Orang lain bangun tidur, kamu masih bekerja, seenggaknya dalam mimpi kebawa sampe tidur loh kalo lagi mikirin pekerjaan. Hahaha. *curhat*
Sedikit waktu buat tidur, lebih banyak waktu untuk bekerja. Itu yang terjadi saat masih merentang jalan menuju kesuksesan (baca: minimal buat balik modal).
Oya, satu lagi. Membuat bisnis sendiri biasanya dimulai dengan melakukan semuanya sendirian. Itu yang terjadi pada kami. Bisa jadi ada yang udah mulai menggaji pegawai. Itu sih antara modalnya udah banyak, berani minjem duit lebih, atau emang bisnisnya mau gak mau dimulai dengan ada pegawai.
Dalam membangun bisnis, ada satu hal penting yang kudu kita ciptakan: sistem. Nah sistem inilah yang menentukan apakah kamu bakalan bisa punya waktu lebih banyak untuk santai atau tecekik bisnis sendiri. Sistem itu misalnya jalur kerja, jalur komunikasi, sistem kepegawaian, SOP pekerjaan, dan sebagainya dan seterusnya.
Bagaimanapun kita bakal tetap ketemu dengan orang-orang yang bakal bilang "enak kamu mah jadi bos bisa santai-santai". Duh kalau ada yang denger ngomong begini, pengen deh rasanya bertukar tempat.
Iya kami bisa santai, tapi banyak di waktu tertentu kami koprat-keprot mengurus pegawai yang kabur membawa uang, mengejar konsumen yang minta pesanan diantar di hari yang sama saat stok sedang habis, minta maaf dihadapan konsumen yang marah, mesin rusak duit habis, bayar gaji pegawai untung cekak, kontrol kualitas produk, karyawan nambah gaji bengkak, dan lain dan lain.
Menjadi wirausaha, resikonya lebih besar. Amanahnya lebih banyak. Komitmen harus teguh dan kuat.
Bersantai? bukan gak bisa, kami lebih suka menyebutnya fleksibel alias bisa diatur, lihat prioritas pekerjaan dulu.
Jadi bos dan ongkang-ongkang kaki? hehehe sebelum ngomong ongkang-ongkang kaki, coba dulu rintis usahamu sendiri, baru kamu tahu
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele
Selasa, 31 Desember 2013
Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik Di Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (2)
Kunci ikan murah adalah: pakannya, alias makanan yang dimakan sama si ikannya.
Apa sih kandungan bahan utama dari pakan ikan? Vietnam bisa bikin pakan ikan murah jangan-jangan karena bahannya seadanya sembarangan ya?
Heuh Ya gaklah. Bahan utama pakan ikan adalah: Tepung Ikan. Jeruk makan jeruk, ya? Tetap aja si ikan butuh pasokan lain selain tepung ikan. Bahan tambahan lainnya bisa macam-macam, umumnya yang mengandung karbohidrat untuk nambah bobot. Nah, setelah kita ketemu sama kunci pertama untuk memproduksi ikan murah, yaitu pakan ikan, kita sekarang ketemu sama kunci keduanya.
Tepung ikan.
Hmmhh memang berlapis-lapis ini kuncinya. Apan saya udah sebutin di judulnya, konfliknya banyak :D
Di bumi ini negara yg memproduksi tepung ikan adalah Peru, Brazil, juga Amerika (cek lagi di internet, taglinenya impor tepung ikan). Termasuk Vietnam. Dia sanggup menciptakan produk yang bahan-bahannya mereka bikin sendiri dari hulu ke hilir. Alhasil terciptalah harga produk yang murah. Tidak ada tepung ikan yang diimpor, tidak ada pabrik luar negeri yang ikutan nimbrung jualan di Vietnam.
Pendek kata, ini yang terjadi di negara bodoh yang sangat aku bela -ngutip Otong Koil-, Indonesia Raya, ini:
1. Pakan ikan lele sekilo doang harganya 9ribu. Sementara buat sehari, pakan yang dibutuhkan rata-rata 5% dari berat total. Minimal sekarung pakan habis sehari. Sekarung tau gak berapa duit? 250ribu. Kalikan 30 hari. Modar sampeyan. Sehari buat di balong lele-lele ini, saya mesti habiskan 1 karung! Bah... pusing kepala. Hehehe :D
2. Bahan utama dari pakan ikan adalah tepung ikan. Negara yang kita cinta ini mengimpor tepung ikan dari negara tetangga. Akibatnya apa? ditambah pajak, bea cukai, dicampur bahan lain = mahal gila. Negara ini kurang laut kayak gimana. Pejabat negara gak kepikiran untuk mendorong industri tepung ikan, padahal laut kita super duper luas, masa gak ada ikannya.
3. Mantan menteri perikanan dan kelautan bernama Fadel Muhammad mencetuskan program membuat bahan pengganti tepung ikan, dibuatnya pun disini di Indonesia. Petani ikan senang menyambut program ini. Entah kenapa sejak ide ini meluncur dari mulutnya, beliau dicopot dari kedudukannya sebagai menteri, pabrik pakan impor selamat dari kerugian, petani kembali bergulat dengan kemiskinan.
4. Tahun 2013, pemerintah mengizinkan pabrik pakan Thailand membangun LIMA pabrik pakannya di Indonesia. Nama pabriknya Charoen Pokphand: Lampung, Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan Sulawesi. Di tahun 2011 aja ini pabrik dapet profit 2 - 3 triliun dari penjualan pakan di Indonesia. Dibawa kemana duitnya? Thailand lah, masa Temanggung. Terus apa kabar petani ikan kita?
5. Petani melihara ikan sampe gede, biar gede dikasih makan yang bagus-bagus. Makannya pake pakan/pelet. Pakannya buatan pabrik: mahal. Petani panen ikan dijual ke bandar: murah. Bandar ngejual ke tangan ketiga, yaitu: penjual pasar atau supermarket: mahal. Siapa yang untung? Pabrik pakan dan bandar ikan. Siapa yang sehat? kamu yang makan ikannya. Siapa yang kismin? petani ikannya.
Pada akhirnya kita ketemu sama Kapitalis-kapitalis yang kesana-kesini pake pesawat jet. Tau gak artinya kapitalis apa? menghasilkan uang di setiap celah yang ada dan ambil untung segede-gedenya, bener-bener seguede-guedenya.
Terus kita berjumpa dengan Globalisasi. Tau gak globalisasi artinya apa? Ngirim barang atau orang lintas negara peduli amat akibatnya. Contoh kasusnya ya ngirim ikan lele dari Vietnam ke Amerika, ngirim ikan lele dari Vietnam ke Indonesia. Yang penting mah kirim-kirim weh. Masa bodo efeknya.
Pusing gak? Moga-moga gak ya. Tapi seenggaknya sekarang udah pada tau konflik dalam (kebanyakan) satu lauk yang kamu sikat habis ya begitu.
Walau iklannya jelek, tapi Om Maspion bener. Dia selalu bilang: cintailah ploduk-ploduk indonesiaaa…
Semakin kamu banyak mengkonsumsi barang buatan Indonesia, semakin banyak petani yang tersenyum karena hasil panennya laku. Tidak ada jejak karbon yang bikin bumi sakit, harga bisa adil dan merata, dan tidak ada hasil panen yang terbuang. Petani bisa nambah penghasilan, bisa nabung, bisa nyekolahin anak, bisa naik haji, bisa jalan-jalan menyusuri pantai dari ujung timur sampai barat Indonesia *eh yang terakhir ini mah kepengen saya hohoho*
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan pertamanya ada disini.
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan pertamanya ada disini.
Senin, 30 Desember 2013
Hulu ke Hilir, Ada Banyak Konflik dari Sepiring 'Lauk' yang Kita Makan (Bagian I)
Beberapa hari kemarin, saya ketemu temen yang mengajak buat kerjasama. Ada restoran besar di Jakarta yang butuh salah satu produk Eazy Freezy dan kayaknya kami ditawarin jadi suppliernya. Ckckck, masa depan naik tingkat menanti hadapan mata. Tapi saya keburu geer, sih. hehehe.
Pas ngobrol, ketahuanlah berapa patokan harga dasar dari suplier ikan yang lain. Kami semua dari geng Eazy Freezy, komennya sama: gelo murah pisan euy! Aslinya, murah, bahkan penjual ikan di Pasar Ciroyom Bandung pun gak bisa kasih harga segitu. Petani ikan bisa mencekik lehernya masing-masing kalau tahu ikan dihargai segitu murahnya. Tau gak darimana suplier ikannya? yes, VIETNAM.
Vietnam melulu. Saya mau naek tingkat ke level lebih tinggi kepentoknya sama Vietnam. Aahhh! Kemarin Cina, sekarang Vietnam, besok apa? Sesekali dijegal Kebumen atau Tasikmalaya kek gitu…
Vietnam menancapkan kakinya kuat-kuat di industri perikanan dunia beberapa tahun belakangan ini. Lebih spesifiknya lagi ikan air tawar: ikan lele dan ikan dori. Industri perikanan di Amerika udah kesetrika sama Vietnam. Banyak pabrik yang gulung tikar karena Vietnam punya produk yang lebih murah.
Saya sampe bertanya-tanya di google. Apa sih yang bikin produk olahan Vietnam murah? Berdasarkan pengalaman dan setelah mata saya keriting baca literatur sana-sini, kuncinya ada dalam satu kalimat berikut ini : Hulu ke hilir, semua dikerjain. Jadi tidak banyak konflik yang campur aduk didalamnya selain kepentingan pemilik yang mau untung besar. Pendek kata, kunci harga ikan murah itu ada di : pakan ikan.
Vietnam gak hanya ngefilet ikan sekelas pabrik. Mereka juga memelihara ikannya. Ini adalah proses 'tengah-tengah' antara si hulu dan si hilir. Mereka kasih makan ikannya menggunakan makanan yang mereka bikin sendiri. Hulunya adalah makanan ikan (pakan ikan). Hilirnya adalah produk yang kalian nikmati dari meja makan.
FYI, pakan ikan itu MUAHALnya luar biasa. Najis gila deh pokoknya -atau kaminya yang melarat aja yak :D - Satu karung pakan ikan lele yang saya beli harganya 270ribu dengan berat 30kg. Sekarung pakan cuma cukup buat sehari-dua hari kalau kelasnya udah peternakan kayak kami. Mahal ya.
Bikin sendiri dong pakannya! Mewek melulu nih petani ikan!
Well, sudah. Setelah percobaan yang ke 15 dan bolak-balik menghabiskan duit di LIPI untuk cek kadar protein, karbohidrat, dan sejenisnya, kami punya pakan sendiri. Sayang masih 'maju kena mundur kena'. Pengerjaan pakannya masih manual sementara ikan lele rampusnya luar biasa eh tenaga kami buat giling-giling pakan udah binasa :D
Vietnam juga memproduksi sendiri pakan ikannya. Pake peralatan canggih-canggih, buruhnya dibayar murah :P Mereka gak ambil dari pabrik pakan yang udah bonafid dari negara manapun. Karena mereka ngerjain sendiri, tidak ada ongkos kirim, bea cukai, pajak, dan segala macamnya itu. Pakan murah, dijualnya pun bisa lebih murah.
Pakan ikan yang ada di Indonesia kebanyakan buatan luar negeri. Terutama buatan Thailand. Termasuk yang saya suka beli. Pakan lokal juga ada dan produknya lakunya. Cuma sayang distribusinya gak banyak. Pakan lokal di Surabaya baru bisa menjangkau daerah sekitarnya. Di Bogor juga ada. Cuma tetep aja distribusi, promosi, masih kalah jauh dengan pakan buatan Thailand. Buat harga pakan lokal memang lebih murah 1.000 - 2.000. Cuma (lagi-lagi) banyak batasan pembelian minimal yang memberatkan petani ikan kayak kami ini.
Kondisi tersebut berkebalikan dengan kita di Indonesia. Pemerintah membuka keran lebar-lebar hingga negara lain bisa sederas-derasnya menjual produknya disini. Termasuk pakan ikan. Sementara pakan lokal tidak diperhatikan dan tidak didukung.
Sudah biasa kan mendengar nasib petani kismin-kismin melulu? karena akar dari semua jenis usaha peternakan yaitu pakannya mahal. Mau dijual pun jatohnya lebih mahal dibanding buatan Vietnam atau India.
Sebentar... ambil napas dulu. Eungap hehehe :)
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan kedua ada disini
Kalau dalam bahasa Sunda, Lauk artinya Ikan. Tulisan kedua ada disini
Minggu, 27 Oktober 2013
Welcome To The Ownership
Baru beberapa bulan dagang, harga bahan pokok naik tinggi-tinggi sekali. Terutama di harga bawang dan cabe. Harga menu saya naikin, ricuh harga BBM. Beres dengan BBM, demo buruh minta naik gaji. Apa ini?
Rencana keuangan perlu dibuat. Tapi diluar sana, apalagi negara kayak kita ini, banyak kejadian yang gak terduga. Kita bisa apa, pemerintah diam saja. Rugi kita yang tambal, gaji pegawai harus dibayar. Well, welcome to the ownership :D
Kedua, kalo kata Lori & Heather, dont get into a business you know nothing about. Sebagai tukang makan, saya sama gele yakin banget bisa ngejalanin ini. Tau gak kenapa? karena kami suka makan. Bloon banget kan alasannya. Ya udah, kami ajak lah kakak yang udah lama banget kerja di dunia restoran. Hasilnya? bisa sih, tapi sering ada aja kaget yang berulang-ulang. "Gini geuning bikin usaha tempat makan teh". Phiiuww.
Mulai dari ngurus pegawai, ngecek tempat, ngurus keluar masuk barang, pegawai sakit siapa yang ganti, menu A kenapa gak laku, menu B kosong, uangnya habis, mahasiswanya libur gimana penjualan, kapan mau bikin menu baru, dimana cari minyak goreng murah, pegawai protes, freezer rusak, pegawai sakit hati bla bla bla. Ah lagi-lagi mau bilang, welcome to the ownership :D
Yang ketiga, jangan campurin bisnis dengan friendship. Oke. Saya gak akan campur-campur bisnis dengan persahabatan. I do worse than that. I mix business with.. marriage. Hehehe. Suami saya, partner kerja saya. Bikin usaha sama suami juga kakak ya wislah konfliknya banyak, tapi bukan berarti gak bisa selesai. Khekhekhe.
Saya ama gele dimanapun seringnya ngomongin Kedai Lele & Eazy Freezy. Kalo udah bosen, suntuk, kesel, suka saling ngingetin "udah ah ngomongin yang lain dulu". Tapi ya kayaknya udah default aja ngomongin usaha sendiri sama suami sendiri karena dia partner kerjanya. Mau kondisi kayak apa gimana juga kalo harus ngobrol ya diobrolin. Kumaha deui yang penting masih happy ya gak? hehehe sekali lagi mau bilang, welcome to the ownership :D
Seru nih acara The Cupcake Girls, saya wajib nonton ini. Banyak yang bisa dicontek. hehe. Ngeliat Heather & Lori yang bekerja dan naro diri mereka masing-masing bukan sebagai pemilik juga harusnya bisa saya kerjain. Pemilik bukan cuma duduk ngeliat laporan keuangan dan nerima duitnya, itu mah kerjaan investor :D Kalo di awal-awal ngerintis usaha kayak gini sih malahan harus ngerasain langsung di lapangan. Biar tau dasarnya dan belajar respek melihat pegawai sendiri, dan yang paling penting adalah kenal watak pelanggan sendiri.
Nah kalau tempat udah bisa ditinggal, pemilik udah bisa duduk tenang. Ya sesekali datang ke tempat buat ngecek kerjaan pegawai dan merangkap jadi tukang sapu, tukang ngepel, tukang cuci piring. Dan tentu aja: tukang jualan. Ya iyalah, pemilik juga harusnya bisa jualan, apalagi kalo ga ada dana buat bayar tenaga pemasaran. Welcome to the ownership hahahaha
Sodara-sodari, Eazy Freezy ini produk unggulannya frozen filet ikan lele. Produk lain-lainnya ada frozen filet ikan gurame, frozen filet ikan golden dori (patin), ikan-ikan lucu babyfish, dan yang jadi kesukaan banyak orang, frozen filet ayam.
250gram - 17 ribu
500 gram - 31 ribu
1 kilogram - 60 ribu
Yang tertarik bisa komen disini atau kontak ke :
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com
Label:
Eazy Freezy,
fillet lele,
jadi pengusaha
Senin, 21 Oktober 2013
Setinggi-tingginya Wanita Bersekolah, Akhirnya Masuk Dapur Juga
Sebentar. Itu mukanya jangan mengkerut dulu. Maksud judulnya bukan seperti yang dikira.
Sebagai lulusan perguruan tinggi no 1 di Bandung, suami saya idealnya bekerja model-model eksekutif muda. Nenteng tablet, kemeja necis, sepatu mengkilap, dan kalo lagi jalan wangi parfum mahalnya menyeruak. Ini mah enggak. Suami saya lebih seneng ngurus kolam lele, macul tanah, bikinin saya meja, nyortir lele, dan semua pekerjaan lapangan lainnya. Tipikal red neck kalau di Amerika, mah.
Gak sedikit yang menyayangkan, lulusan ITB jadi petani lele. Susah payah masuknya, jungkir balik ngebiayainnya, kok milih bau-bauan dengan ikan lele? Kenapa gak berkarir di dunia arsitektur aja atau kembali menjalani profesi sebagai fotografer & multimediaman seperti sedia kala?
Kalo ngomongin gengsi, kerja kantoran memang punya kedudukan tinggi di mata kebanyakan orang tua-orang tua kita. Beda halnya dengan kerja model petani lele ini. Udah mah kerjanya pake celana pendek & kaos oblong yang lusuh, kerja sama yang kotor dan bau pula. Suami saya udah beberapa kali mempekerjakan pegawai biar lebih ringan dan bisa mengerjakan hal-hal yang lebih menuntut otak. Setahun ini udah ketemu pegawai yang cocok. Tapi dia lagi ditarik dulu kerja di Kedai Lele karena kekurangan pegawai.
Kalau ada keadaan yang menuntut seorang laki-laki harus bekerja sesuai latar belakang pendidikannya, kenapa untuk wanita malah bisa kebalikannya?
Setinggi-tingginya perempuan sekolah, dimaafkan kalau akhirnya berkarir di rumah mengurus anak dan keluarga. Intinya kan berdedikasi menjadi Ibu. Logika ini harusnya diaplikasikan sama dengan laki-laki. Kerja apapun gak ada hubungannya dengan latar pendidikan, toh pada intinya menafkahi keluarga. Sekolahnya arsitek terus jadi petani lele, gak boleh?
Jadi petani lele atau arsitek, sama saja. Jenisnya saja yang berbeda. Tujuannya sama, duit. Bahasa halusnya mungkin 'menafkahi keluarga'.
Ilmu sekolahnya gak dipake dong?
Loh justru kepake banget. Apa kita jadi ibu terus ilmu yang kita enyam waktu sekolah gak kepake? Walau pada akhirnya pekerjaan yang suami dan saya lakoni gak sesuai dengan gelar pendidikan, ya sudah tutup bagian 'aduuuh percumanya' dan kita lirik dalam-dalam kebaikannya. Apa-apa yang kita jalani di sekolah selama bertahun-tahun itu gak sia-sia karena ilmu bukan pada mata kuliah aja kuncinya. Ilmu juga ada pada kehidupan sekolahnya, kehidupan manusianya.
Sekolah bikin saya punya rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Bangun pagi biar gak telat karena sekolah dimulai jam tujuh pagi. Seragam tertentu untuk hari tertentu. Belum lagi mengerjakan PR, belajar karena ada ulangan, kerja kelompok, menjawab pertanyaan guru. Banyak banget interaksinya. Kita punya pengalaman berinteraksi dengan orang banyak, pernah menerima dengan legowo dan pasrah amarah dosen, berantem sama temen gara-gara beda pendapat, begadang mengerjakan tugas, mengejar deadline, tetep masuk kelas walau gak suka guru/dosennya, iri dengki liat prestasi temen, dan masih banyak lagi.
Itu kan prosesnya gak percuma. Beberapa pegawai saya banyak yang sekolahnya nyampe SD dan SMP aja. Salah satunya pernah cerita, empat kali DO dari sekolahnya. Kenapa? saya tanya. Males, Bu, ketemu guru yang nyebelin. Jawab dia.
Ha? bisa ya gara-gara guru nyebelin terus mutusin gak mau sekolah. Baru kena tekanan seperti itu sudah menyerah. Sekolah yang kita enyam, ngajarin tekanan-tekanan yang gak kita sadari bisa membentuk kita (atau paling gak, saya) jadi kayak sekarang.
Sekolah, yang saya yakinin, adalah alat sekaligus perantara menemukan apa yang jadi kepengen kita. Sekolahnya arsitek dan profesinya jadi petani lele. Sekolahnya jurusan bahasa, jadinya Ibu. Ya tidak apa-apa. Yang kenapa-kenapa orang tua kita, sih. Bukan salahnya, itu hak mereka merasa kecewa meski kita gak suka. Tetap aja orang tua, harus kita hormati & respek maunya apa. Tinggal kita nih sebagai generasi orang tua muda, kunci generasi berikutnya, apa bisa mulai menghilangkan pameo 'sekolah dokter kuduna jadi dokter' atau (ini nih yang paling saya sebelin) 'matemetika+bahasa inggris=sukses'.
Buat ngerjain peternakan lele sampe Kedai Lele, dan Eazy Freezy ini, saya & suami udah lewati fase "udah lah kita balik jadi pegawai lagi aja" berkali-kali. Dia punya determinasi yang kuat. Saya punya bekal mengalami dunia usaha dan gen keturunan penjual ayam. Sepertinya takdir memang menyatukan kami.
Harga Eazy Freezy masih sama, rupa mulai berbeda. Sekarang mah udah ada labelnya horeee! Kemasan lebih cantik lah teu polos-polos teuing.
Ditunggu ya pesenannya. Sekarang jadwal pengirimannya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Harga masih sama, sekarang udah ada ongkos kirim. Dekat dengan pos pengiriman 5ribu, jauh dari pos 10ribu.
Ini daftar produknya Eazy Freezy:

(typo di desainnya mohon dimaafkan :D udah keburu cetak banyak euy)
Frozen Filet Ikan Lele
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu

Frozen Filet Golden Dory (Patin)
250 gram - 17ribu
500 gram - 31ribu
1kilogram - 60ribu

Frozen Filet Gurame
250 gram - 25ribu
500 gram - 46ribu
1kilogram - 90ribu

Frozen Babyfish (anak-anaknya ikan Nila & ikan Mas)
150 gram - 12ribu
150 gram - 12ribu
250 gram - 20ribu
Sementara segitu dulu. Yang mau jadi reseller juga silakan banget nih butuh banget *halow halow yang di Jakarta mau jadi reseller gak, banyak yang pengen beli nih tapi saya tolak melulu karena ongkos kirim*
Kontak kami ada di :
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com
Label:
Eazy Freezy,
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Revolusi
Rabu, 16 Oktober 2013
Rome Was Not Built In A Day
Kedai Lele udah setahun euy umurnya. Alhamdulillah. Dulu waktu baru mulai usaha ini pernah ada yang bilang ke saya, bisnis kuliner -khususnya restoran/warung makan- itu bakal cuapek buanget. Saya menanggapinya dengan "ya..ya..ya pasti capek ya..ya..ya...".
Beuh aslinya... ternyata.. eh gak disangka... waktu baru sebulan menjalani Kedai Lele, rasanya mau berhenti aja. Gak nyangka secapek itu. Hehehe. Terkadang kalau lagi jam rame, susah makan, gak bisa duduk, stres karena masaknya ditungguin konsumen. Mana di Kedai Lele di deket kampus Telkom University itu segala proses masak & menyajikannya di depan konsumen. Bener-bener tekanan tinggi. Jadi sedikit2 mah tau kerjaan chef kayak gimana.
Bener kata Gordon Ramsay," When you're a chef, you graze. You never get a chance to sit down and eat". Angkat topi buat yang profesinya Chef. Sejuta jempol yang kerjanya di dapur terus-terusan.
Di Kedai Lele, saya belajar benar-benar dari dasarnya, yaitu ngepel, cuci piring, menyapu, ngelap, memasak, menyikat wc, dan masih banyak lagi yang sifatnya menguras fisik. Setelah itu saya beranjak ke level berikutnya: administrasi dan mengurus sumber daya manusia. Beres dengan perintilan teknis, saya pun berhadapan dengan bisnis yang sebenar-benarnya: apa yang harus saya lakukan agar produk saya laku di pasaran?
Kepengennya bayar yang jago marketing buat bantu saya biar dagangan laku. Tapi secara finansial belum sanggup. Jadilah saya bagi-bagi tugas sama kru yang ada aja.
Pengalaman saya dalam berwirausaha memang belum banyak. Kedai saya masih kecil. Setahun belum jadi apa-apa, belum jadi siapa-siapa. Tapi sudah satu tahun bertahan, itu juga tidak mudah. Setahun dan i still want to have thousand more years ahead, yes.
Kota Roma aja gak beres dibangun dalam sehari, apalagi Kedai Lele.
Kedai Lele jalan terus, malah kepengen mah buka cabang dimana-mana. Sambil mewujudkan itu, saya mau keluarin menu baru di bulan ini. Dua menu baru yang bahan utamanya daging ikan lele.
Bukan cuma itu aja, sih. Ehem, siap-siap nih, mau promosi :))
Saya juga lebarin sayap ke produk yang lain tapi sejenis. Bukan berarti tidak fokus di Kedai Lele. Ya ibaratnya Steve Jobs ngeluarin Macbook terus dia juga bikin Ipod. Lah saya juga bikin Kedai Lele, terus bikin Eazy Freezy.
Postingan lalu saya pernah posting panjang, ngiklan disini jualin Lele Fillet Frozen. Cuma waktu itu belum ada mereknya. Baru dapat nih hari jumat kemarin Launching produknya pun minggu depan, nunggu kemasan dicetak dulu. hehehe. Jadi yah belum bisa menyertakan foto dulu disini.
Lele Fillet Frozen dibawah bendera Eazy Freezy ini tersedia ukuran 250 gram (17ribu), 500 gram (31ribu) dan 1 kg (60ribu). Kalau mau jadi reseller, ada harga khusus reseller juga nih.
Call me call me kalau mau beli lele filet frozennya ya. Komen disini. Email juga bisa. Cuma ya itu, masih buat yang domisili Bandung euy. Beli minimal yang 500 gram, dianter sampai rumah, ongkos kirim gratis dulu, bayar pas barang udah nyampe.
Siplaaa :)
Kontak:
Kontak:
WA 0812.2005.4556
BBM 7CBDAA49
Email filet.ikan@gmail.com
Label:
Eazy Freezy,
fillet lele,
frozen lele,
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Kedai Lele,
Revolusi
Kamis, 03 Oktober 2013
Loh Kemana Aja Petani Lele?
Rasanya sudah lama gak posting disini. Sebulan dua bulan. Ah parah sekali. Saya keasyikan ngurus blog sendiri, mungkin :D
Ternak lele saya lagi off dulu. Kehabisan modal. Eits berkegiatan dengan ikan lele mah masih. Saya kan punya Kedai Lele. Sekarang saja jadi juru fillet. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan... saya lebih milih kata: SECEPATNYA begitu ada dana buat ber-lele lagi, saya kembali jadi fitrah sayajadi petani lele. Sayang banget soalnya ini pakan lele udah saya buat. Saya bikin sendiri. Eh malah kehabisan ikan lelenya. Heuheuheu.
Sekarang saya bersama seorang teman sesama peternak ikan juga sedang menyusun rencana. Sebelum jadi, saya gak bisa cerita banyak disini. Takut sompral.
Saya punya beberapa ide, rencana, tapi semuanya mentok di modal. Sebel ya nonton di tv orang-orang pada punya uang eh malah ngabisin duit mereka gitu-gitu aja. Mbok ya kasih ke saya gitu. Huufht :D
Modal duit abis, semangat gak boleh putus. Yes?
Ternak lele saya lagi off dulu. Kehabisan modal. Eits berkegiatan dengan ikan lele mah masih. Saya kan punya Kedai Lele. Sekarang saja jadi juru fillet. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan... saya lebih milih kata: SECEPATNYA begitu ada dana buat ber-lele lagi, saya kembali jadi fitrah sayajadi petani lele. Sayang banget soalnya ini pakan lele udah saya buat. Saya bikin sendiri. Eh malah kehabisan ikan lelenya. Heuheuheu.
Sekarang saya bersama seorang teman sesama peternak ikan juga sedang menyusun rencana. Sebelum jadi, saya gak bisa cerita banyak disini. Takut sompral.
Saya punya beberapa ide, rencana, tapi semuanya mentok di modal. Sebel ya nonton di tv orang-orang pada punya uang eh malah ngabisin duit mereka gitu-gitu aja. Mbok ya kasih ke saya gitu. Huufht :D
Modal duit abis, semangat gak boleh putus. Yes?
Label:
jadi pengusaha,
jadi peternak lele,
Kedai Lele
Sabtu, 17 Agustus 2013
Kapan Mau Memutuskan (Berwira)usaha?
Waktu bikin usaha ternak lele, saya masih aktif kerja di kantor. Ternak lele yang saya buat ini khusus untuk sampingan saja. Rencananya pendapatan yang saya peroleh untuk membantu keuangan keluarga besar. Tujuan lainnya supaya saya bisa nabung gaji kantor buat saya sendiri.
Pertanyaannya adalah: apakah tujuan saya tercapai?
Sadly, tidak.
Saya agak lupa bahwa dalam dunia usaha ada yang namanya PROSES. Proses ini yang saya lalui berkali-kali. Saya gagal, saya mulai lagi. Begitu terus sampai modal kegerus. Habis. Saya pikir saya harus fokus di ternak lele. Saya perlahan mundur dari kantor. Memang ada hasilnya. Kemajuan lebih banyak bisa dilakukan karena saya terus menerus ada disitu. Namun pemasukan belumlah ada, perut keluarga gak boleh gak diisi.
Ternak lele masih berjalan. Saya menemukan inti dari segala permasalahan saya di usaha ini: pakan. Namun belum benar-benar bisa dijalankan karena modal yang kepepet preeet. Saya berencana minta bantuan ke lembaga yang lebih besar, nih. Deg-degan juga. Tapi khusus untuk dunia kuliner, saya rasa ga bohong kalau modal besar mendatangkan profit yang jauh lebih besar lagi.
Sambil nunggu modal untuk budidaya lele turun, Kedai Lele jalan terus.
Sama halnya dengan ternak lele, usaha di bidang kuliner yang satu ini juga prosesnya hwaduh gila edan seruuuuuuuuu! Siapapun kalau mau usaha di bidang restoran, warteg, atau sejenisnya, ingatlah ini: CAPE BANGET! huahahahahahha. Nah kalau sudah ingat, ingat ini juga: BUAT SISTEM pekerjaan yang baik.
Semua paparan saya belum menjelaskan judul tulisan ini, memang. Ya namanya juga proses :P
Mendapatkan tambahan pemasukan, jelas jadi tujuan bikin usaha. Saya juga begitu kok. Intinya mah uang. Tapi waktu yang tepat buat berwirausaha itu kapan, wah saya juga gak tau. Setelah usaha ternak lele dan Kedai Lele, saya pikir-pikir memang bikin ide itu gampang nian. Yang susah aksi nyatanya.
Aksi haruslah ada rencana. Maka bikin dulu rencana kerja dan keuangannya. Kemungkinan terbaik dan terburuk. Kalau sudah, nah tinggal diwujudkan saja semangat wirausahanya sambil menyiapkan mental menjalani prosesnya ;)
Langganan:
Komentar (Atom)



